Solo Backpaker Danau Toba

Solo Backpacker : Eksplore Danau Toba, Dari Budaya Sampai Sejarah

Sejatinya untuk mengenal diri sendiri, lebih baik kamu harus mencoba melakukan perjalanan sendiri atau yang lebih sering di sebut dengan solo backpacker. Jika masih bingung menentukan tujuan, cobalah solo backpacker di Danau Toba. Kenapa harus Danau Toba? Karena di Danau Toba kamu dengan mudah menemukan destinasi-destinasi yang apik, orang-orang baru yang bisa mengubah cara pandangmu atau mungkin juga kebudayaan dan sejarah yang ada bisa membuatmu lebih memaknai hidup.

Untuk menuju danau Toba juga sangat mudah. Jika kamu dari Medan, kamu bisa menggunakan bus ke arah Parapat kemudian dilanjutkan dengan menggunakan kapal ferry untuk menyeberang. Untuk Cerita Selenkpanya, simak yuk catatan perjalanan Solo Backpacker dari ngayap.com berikut ini.

Pagi Mencekam, Banyak Wisatawan Membatalkan Tujuan Menyeberangi Danau Toba Karena Peristiwa Tenggelamnya Kapal.

Awal saya ragu untuk melanjutkan perjalanan menuju samosir, tapi karena niat dan tekat yang bulat akhirnya tetap melanjutkan perjalanan meski sesekali rasa was-was selalu menghampiri. Sebelum saya menyeberang ke Samosir saya memastikan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya.

Untuk menyeberang dibutuhkan waktu kurang lebih 40 menit. Di dalam kapal juga sangat asyik, di temani dengan angin sepoy-sepoy serta sepasang kekasih kakek nenek sedang asyik bercanda ria. Mungkin mereka sedang asyik menuntaskan masa lalu yang belum tercapai atau hanya sekadar menghabiskan waktu bersama di usia yang senja.

Hari Pertama, Selamat Datang di Tomok, Perpaduan Sejarah, Budaya dan Adat-Istiadat yang Kental Menjadi Ciri Khasnya.

Setelah saya menyeberang ke Samosir, Tomok menjadi destinasi pertama sayang kunjungi. Setelah turun dari kapal, beberapa jasa penyewaan kereta (sepeda motor) menghampiri. Akhirnya saya pun mulai negosiasi harga untuk sewa selama kereta untuk eksplore danau toba yang terkenal dengan samosirnya.

Tak banyak kendala dalam hal tawar menawar karena memang saya sendiri merupakan orang batak meski tak begitu paham dengan adat batak toba karena saya tinggal di padang lawas. Setelah deal dengan harga, tak sengaja saya melihat sebuah rumah pohon tempat, salah satu lokasi terbaik untuk menikmati udara segar sekalian istirahat sejenak.

Rumah Pohon di Tomok, Pulau Samosir Danau Toba

Setelah selesai dengan rumah pohon, akhirnya saya melanjutkan perjalanan mencari penginapan di daerah Tuk-Tuk, karena konon katanya penginapan banyak disana. Dan sialnya, satu pun hotel yang saya kunjungi penuh, dan pada akhirnya menginpa di rumah warga lokal menjadi pilihan yang memberikan banyak pengalaman. Bukankah warga setempat merupakan sumber informasi yang pas?

Menari Bersama Si Gale-Gale Kudu Di Coba, Kisah Roh yang Konon Menari di Pulau Samosir.

Tak lengkap rasanya jika ke Samosir tanpa menikmati pertunjukan tari si gale-gale. Sigale-gale mengenakan pakaian adat lengkap dengan kain ulos yang menjadi lambang kebesaran budaya Batak. Boneka ini ditaruh di atas peti dengan lambang kepala manusia dengan tanduk.

Pertunjukan tari sigale-gale

Rangkaian ritual sakral pun mengiringi gerakan Sigale-gale dan ada sejumlah penari ikut menari tor-tor bersama. Atraksi ini pun menarik banyak wisatawan untuk melihatnya. Pada salah satu prosesi adat Sigale-gale, turis juga boleh ikutan menari tor-tor di dekat si boneka lho.

Karena perjalanan ini dilakukan satu tahun lalu dan data ceritanya telah hilang di website, akan dilanjut lain kali …

Artikel tentang pengalaman solo backpaker di Danau Toba pernah di ikut sertakan lomba menulis di kumparan.com dan tiket.com dan menjadi juara favorite dengan judul artikel Danau Toba dan Medan, Pesona Kampung Halamanku yang Tak Terbantahkan

3 Replies to “Solo Backpacker : Eksplore Danau Toba, Dari Budaya Sampai Sejarah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *