Pendakian Gunung Sumbing

Pendakian Gunung Sumbing 3371 Mdpl: Sepenggal Cerita di Gunung Paling Gagah di Jawa Tengah

Gunung Sumbing dengan ketinggian 3.371 mdpl merupakan gunung api yang terletak di tiga kabupaten di sekitar Jawa Tengah, yakni Magelang, Temanggung dan Wonosobo. Gunung tertinggi kedua di Jawa Tengah ini persis berdiri berhadapan dengan Gunung Sindoro 3.152 mdpl, sama gagahnya dan saling saling menantang.

Menawarkan keindahan alam yang sangat menawan dengan trek pendakian yang sangat menantang, menjadikan Gunung Sumbing sebagai salah satu tujuan favorit bagi para pecandu ketinggian dari antara sekian banyak gunung yang menjulang tinggi dan berdiri gagah di Bumi Pertiwi.

Nah, hal itu pula yang membuat saya untuk langsung menyaksikan keindahana gunung Sumbing ini bersama Tavak Adventure. Berikut perjalananan selengkapnya Pendakian Gunung Sumbing Via Jalur Garung.

Basecamp – Menuju Pos 1, Rasakan Sensasi Naik OJek Dengan Jalur yang Curam dan Kamu Pun Harus di Depan Abang Ojeknya.

Setelah perjalanan yang melelahkan dari Jakarta dengan tingkat emosi tinggi karena supir yang disewa justru membawa kami melalui jalur macet di Bekasi. Hingga pada akhirnya sampai juga di Temanggung, kota yang diapit dengan gunung Sumbing dan Sindoro ini sungguh adem sehingga dengan mudah melupakan kejadian macet.

Ojeg Gunung Sumbing, Rasakan sensasinya.

Setelah selesai packing ulang cariel masing-masing, saatnya tancap gas menuju abang gojek. Untuk menuju pos 1 dibutuhkan waktu kurang lebih 15 menit dengan menggunakan ojek. Rasakan sensasi naik ojek anti maintream, dimana lagi kamu naik ojek duduk di depan.

Pos 1 Menuju Pos 2, Jalanan Terjal dan Penuh Tantangan, Sesekali Istirahat Untuk Memulihkan Tenaga Sejenak.

Dari pos 1 kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2, jalanan menuju pos 2 belum terlalu terjal. Jalanannya cukup terjal dan menanjak namun sesekali masih ada jalur landai yang membuat kaki terhibur.

Untuk menuju pos 2 dibutuhkan waktu kurang lebih 2,5-3 jam karena jalur memang cukup panjang. Di pos 2 juga sebenarnya bisa mendirikan tenda namun sangat sempit. Disini juga sudah ada warung yang menjual berbagai macam gorengan dan minuman.

Pos 2 Menuju Pos 3, Tanjakan Penuh, Pendaki Menyebutnya “Kamu Memasuki Kawasan Engkol-Engkolan”.

Awalnya perjalanan ini masih bisa bernafas dengan tenang, sebelum pada akhirnya ucapan selamat datang dari di kawasan Engkol-engkolan menghujam kaki. Inilah salah satu pos yang paling sulit untuk dilewati. Perjalan yang sungguh meleahkan, diteriknya panasnya mentari, dibawah pepohonan yang ranggas serta debu yang menggumpal karena memang musim kemarau.

Anda Memasuki kawasana engkol-engkolan

Hingga pada akhirnya, sampai juga di Pos 3. Kami mendirikan tenda disini, suasana sore menjelang petang terlihat dengan jelas sang mentari ingin kembali keperaduannya. Udara dingin menusuk kalbu, lautan awan dan cahaya redupan mentari bersatu padu. Dan pada akhirnya mereka pun kembali keperaduannya masing-masing, istrirahat sejenak yang digantikan dengan gelap gulita. Hanya diterangi dengan bintang dan cahaya lampu dari tenda para pendaki.

Suasana Sore di Gunung Sumbing

Pos 3 Menuju Pos 4 (Watu Kotak), Pendakian Dini Hari Hingga Mistis Menyelimuti Langkah Kaki.

Setelah istirahat dan makan, jam 3 dini hari kami mulai perjalanan ini dengan tujuan sunrise di puncak. Berteman dengan udara dingin dan cahaya senter, kaki perlahan-lahan melangkah. Hingga pada akhirnya saya termasuk dalam pendaki yang paling belakang, karena memang tidak begitu kuat berjalan lagi dan udara dingin yang semakin ganas.

Menyambut sang mentari di pos 4

Hingga pada akhirnya benar-benar tertinggal dibelakang sekitar 10 meter, saya masih melihat jelas mereka mendaki dan satu orang menunggu saya sambil memanggil nama. Namun, di sebuah batu yang cukup datar, tepat di belakangnya saya melihat tenda dan seorang lelaki paruh baya yang sedang menenteng lampu. Sayup-sayup saya tetap memperhatikannya, dan dalam hati ingin istirahat saja di dalam tendanya karena memang sudah tak kuat lagi.

Namun apa daya, setelah saya sampai bertemu dengan teman yang menunggu. Dan tepatnya seharusnya tenda itu ada dibelakang dia, namun saya terengah dan langsung sok dan hanya berdoa dalam hati. Serta sesekali membaca ayat kursi dan hafalan ayat-ayat Al Quran lainnya. Hingga akhirnya terus melanjutkan perjalanan sampai pos 4.

Pos 4 (Watu Kotak) – Menuju Puncak, Akhirnya Gagal Sudah Perjuanganku. Meski di Depan Sudah Jelas Terlihat Puncak Pendakian Gunung Sumbing.

Pagi menjelang, lautan awan dan sunrise sudah mulai muncul. Saya dan teman benar-benar tertinggal, kami hanya berdua yang ketinggalan dan satu lagi benar-benar di belakang. Meski pun begitu, kami tetap melanjutkan perjalanan menuju puncak.

Akhirnya perjuangan gue selesai, hanya mampu sampai sini.

Hingga pada akhirnya, saya benar-benar menyerah. Memaksakan untuk sampai puncak pun rasanya tak sanggup lagi, belum lagi cahaya yang sudah mulai terang. Akhirnya saya benar-benar menyerah dan memilih istirhat dan tidur sambil menunggu mereka yang sampai puncak. Meski sebenarnya tinggal sedikit lagi menuju puncak

One Reply to “Pendakian Gunung Sumbing 3371 Mdpl: Sepenggal Cerita di Gunung Paling Gagah di Jawa Tengah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *