Menggapai Puncak Gunung Gede, Potongan “Surga” di Tanah Pasundan

Pendakian Gunung Gede
Pendakian Gunung Gede

Karena hal paling penting dari sebuah pendakian bukan hanya menapaki puncak tertinggi, melainkan proyeksi diri atas segala kecakapan pribadi. Selain itu, perjalanan ke gunung, sebenarnya bukan hanya perkara menemukan, tapi perjalanan bermakna dalam demi melekatkan sebuah ikatan.

Ya, itulah arti pendakian bagi saya yang masih tergolong pendaki pemula atau mungkin saya lebih suka menyebutnya sebagai traveller. Ya, merekatkan sebuah ikatan bersama orang baru yang dikenal ketika bersua di jalur pendakian dan merekatkan hubungan dengan sahabat dengan banyolan yang keluar dari mulut begitu saja.

Kali ini saya, Rahman dan Zipta melakukan pendakian menggapai Puncak Gunung Gede. Perjuangan di dinginnya udara malam menusuk kalbu sampai dengan lelahnya mendaki menjadi cerita yang tak akan luput dari kenangan. Simak yuk cerita pendakian gunung gede ini.

Macetnya Jakarta Sampai Dinginnya Udara Bogor, Nyatanya Tak Menyurutkan Jiwa-Jiwa yang Haus Akan Nikmatnya Secangkir Kopi Hangat di Ketinggian.

Rindu yang menggebu akan secangkir kopi di gunung

Setelah tiket pendakian gunung gede sudah di tangan dan hari yang telah ditentukan telah tiba. Kami pun berangkat dari Jakarta menuju basecamp gunung gede via putri. Di mulai dari menerobos macetnya Jakarta sampai jalan raya bogor.

Memasuki kawasan bogor pun menjadi tantangan tersendiri. Udara sejuk dan hembusan angin malam di kawasan puncak nyatanya mampu masuk ke relung-relung badan yang sudah di lapisi jaket. Hingga akhirnya kami pun sampai di basecamp dan istirahat semalaman untuk menyiapkan tenaga.

Tak Terasa Pagi Pun Menjelang, Setelah Melaksanakan Tugas Seorang Hamba Kepada Sang Penciptanya, Saatnya Melanjutkan Petualangan.

Perkebunan warga di jalur pendakian

Tak terasa waktu rebahan di basecamp pun sudah mulai habis, di mulai dari pertanda ayam berkokok kemudian suara adzan berkumandang. Setelah selesai dengan segala urusan dan sarapan, akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan dengan santai.

Di awal pendakian ini semua berjalan lancar karena tracknya yang masih santai. Selain itu, perkebunan warga menjadi teman perjalanan yang selalu setia mendampingi. Bukan hanya itu, ada juga aliran curug yang harus di lewati dan juga bisa menikmati segarnya secara langsung.

Selama pendakian menuju pos 1, tak ada halangan yang berarti dan semua berjalan dengan lancar. Lalu lalang para pendaki juga menjadi pemandangan yang cukup membuat diri terhibur. Karena memang banyak yang mendaki dengan kurang persiapan dan hanya mengadukan gaya saja. Kami pun sebenarnya tak seutuhnya menggunakan keamanan yang maksimal karena hanya memakai sandal gunung.

Selama Perjalanan Dari Pos 1 Menuju Alun-Alun Surya Kencana, Rintangan Demi Rintangan Akhirnya Sukses Terlewati.

Track panjang pendakian gunung gede

Dari pos 2, track pendakian pun semakin terasa karena jalurnya semakin rumit. Akar-akar pepohonan dan jalanan yang agak licin membuat kami melangkah semakin ekstra. Belum lagi, rasa kantuk di tengah-tengah rindangnya pepohonan selama jalur pendakian harus di lawan.

Rasa haus dan lapar juga sesekali menghampiri dan untungnya kami membawa bekal yang cukup banyak. Mulai dari camilan sampai dengan buah-buahan. Namun kami juga membeli makanan yang ada di setiap pos, mulai dari gorengan sampai dengan buah semangka. Benar adanya bahwa pendakian gunung gede adalah syurganya bagi pendaki.

Bagaimana tidak, selama pendakian ini akan selalu ada penjual makanan baik di pos atau pun antara pos. Memang harganya cukup mahal tapi masih wajarlah untuk penjual di alam bebas.

Sebelum memasuki surya kencana, jalanan semakin terjal dengan akar-akar yang semakin banyak. Namun karena banyak pepohonan yang kecil juga bisa kamu jadikan sebagai tempat untuk berpegangan. Selain itu, masih ada juga kok jalanan yang datar meski sedikit tapi cukup membuat semangat kembali.

Memasuki Kawasan Surya Kencana, Hamparan Kabut Tipis Serta Bunga Edelweiss Menyambut Setiap Langkah Kaki Para Pendaki.

Alun-Alun Surya Kencana

Setelah perjalanan panjang yang penuh dengan tanjakan, tibalah saatnya rasa lelahmu terbayar tuntas. Kamu akan di sambut dengan lapangan yang sangat luas dan tak berujung sepanjang mata memandang. Ini lah yang di sebut surya kencana.

Di sini hembusan angin rasanya selalu menancap ke dalam tulang belulang karena sudah tidak ada sama sekali pelindung berupa pepohonan melainkan hanya jaket yang di pakai. Sesekali kali kabut mistis dan riuhnya angin selalu bergantian menemani para pendaki.

Selain itu, disini juga adalah tempat camping favorit karena selain tempatnya yang luas. Ada juga sumber mata air yang bisa dipergunakan untuk memasak. Di pagi hari juga, disini ada penjual nasi uduk yang bisa kamu beli jika memang malas memasak. Dan saatnya kamu terus menikmati hamparan bunga edelwaiss yang sangat mempesona.

Pendakian Gunung Gede
Pendakian Gunung Gede

Oh iya, selain terkenal dengan keindahannya. Gunung gede juga menyimpan cerita mistis yang tak kalah menyeramkan. Sudah banyak kisah pendaki berbalut mistis, seperti yang di alami oleh Vie Sugiyanto dalam kisah pendakian gunung gede, ditemani pendaki lain dari beda dunia.

Puncak Gunung Gede Memang Tak Menawarkan Lautan Awan yang Menawan, Tapi Gagahnya Gunung Pangrango Menjadi Lanscape Fhoto yang Mempesona.

Puncak Gunung Gede

Untuk mencapai puncak gunung gede, kami tak perlu terburu-buru karena jarang ada lautan awan yang menawan seperti gunung-gunung lainnya. Dengan ketinggian yang hampir sama, justru Gunung Bismo lautan awannya lebih menawan di bandingkan dengan gude gede (bukan untuk membandingkan ya)

Setelah mendaki kurang lebih 20 menit dari Surya Kencana, Puncak Gunung Gede sudah sah kamu kunjungi. Di puncak gunung gede juga ada sebuah tugu yang menjadi favorit fhoto bagi para pendaki.

Setelah sampai puncak jangan buru-buru untuk turun, nikmatilah ciptaan Tuhan yang sangat indah ini. Dan jadikan sebagai penambah rasa syukurmu kepada sang pencipta.