Menikmati Pasir Buntung Camping Ground Dengan Deretan Curug Nan Mempesona

Pasir Buntung Camping Ground
Pasir Buntung Camping Ground

Bogor selalu mampu menarik jiwa para petualang untuk menikmatinya. Banyak destinasi baru yang silih berganti menampilkan pesonanya dengan kekuatan media sosial tentunya. Salah satunya adalah Pasir Buntung Camping Ground. Apakah kamu sudah pernah mendengar salah satu lokasi camping tersebut?

Jika belum pernah atau mungkin kamu juga ingin menikmati pesona sunrise dari balik gunung dan bebukitan, sunset jika sedang beruntung dan tentu saja deretan curug nan mempesona. Dari curug yang mudah dijangkau sampai dengan membuat kaki tak kuat menanjak. Semuanya bisa kamu temukan di Pasir Buntung Camping Ground, gak percaya? Simak yuk perjalanan dari Ngayap.com berikut ini.

Jakarta Sampai Dengan Kampung Raina Ciasihan Bogor, Dari Sengatan Panasnya Mentari Sampai Dengan Rintik Hujan.

Setelah sekian purnama tak melakukan perjalanan, akhirnya kami pun memutuskan untuk camping ceria. Perjalanan yang melelahkan pun telah di mulai, dari panasnya sengatan matahari Jakarta sampai dengan Bogor Kota. Sehingga akhirnya disambut dengan sejuknya udara perkampungan di bogor yang selalu identik dengan hujan.

Untuk Vidio Perjalanan Kami, Bisa Subcribe Youtube Ini ya!

Selama perjalanan menuju Pasir Buntung Camping Ground, kami pun selalu menikmati pemandangan alam yang menawan dan sesekali mojang bogor yang cantik terlihat di pinggir jalan. Singkat cerita, kami pun sampai ke sebuah gerbang dan kawasan desa, dan kami pun registrasi yang dibantu oleh bang Babeh dengan membayarkan uang masuk Rp. 65.000 per orang. Karena katanya destinasi camping tersebut sudah termasuk paket wisata.

Apa boleh buat, kami hanya bisa membayar dan dijelaskan sedikit tentang camping ground tersebut dan tak lupa dikasih link google map supaya tidak tersasar. Meski sebenarnya saya juga menggunakan alamat yang diberikan yang saya dapatkan di instagram.

Ditemani Gerimis yang Manis, Pendakian Menuju Pasir Buntung Camping Ground Dimulai Dari Tanjakan.

Pasir Buntung Camping Ground
Pasir Buntung Camping Ground

Dari kawasan gerbang, kami pun masih melanjutkan perjalanan sampai dengan posko pendakian. Lalu diantarin salah satu petugas menuju camping area. Dimulai dari turunan sejenak kemudian menaiki anak tangga yang sudah dibuat dari tanah. Sekitar 10-20 menit dengan tanjakan penuh, kami harus berjuang untuk mencapai camping area.

Setelah sampai kawasan, barisan tenda sudah berdiri dengan apik karena memang lagi ada acara salah satu komunitas seni. Alunan musik yang merdu menemani kami mendirikan tenda, sehingga akhirnya tenda pun berdiri. Lalu kami istirahat dan mengobrol santai seperti biasanya sehingga jam 9 an. Alunan musik masih terdengar syahdu dan suara tenda sebelah yang sangat kacau.

Gangguan Anak Labil Dengan Segala Ocehannya Sampai Dengan Mimpi Horor yang Terasa Nyata, Semua Membuat Malam Dilalui Sungguh Menakutkan.

Ku tak percaya kau ada di sini , Menemaniku di saat dia pergi, Sungguh bahagia kau ada di sini, Menghapus semua sakit yang kurasa

Sepenggal lirik dari viera sampai dengan musik hindi tepatnya di tengah malam, ditambah lagi cerita yang tak masuk akal serta guyonan se*sual menjadi obrolan tenda sebelah. Awalnya kami sudah tertidur dengan lelap, sehingga akhirnya suara ketawa dan alunan musik dengan nada yang membuatku terusik. Sampai jam 3 pagi mereka masih melakukan hal yang sama, sedangkan aku hanya bisa bermain hape dan membaca beberapa artikel.

Lain halnya dengan zifta, dia yang tertidur lelap tanpa terganggu dengan suara musik dan obrolan anak alay, justru dia bermimpi di ganggu oleh makhlus halus yang bernama gendruwo sampai dengan khuyang. Yang membuatnya juga tak bisa tidur dan bangun dengan rasa ketakutan. Sebenarnya, saya juga melihat sesosok gelap dari tenda, tapi tak berani melihat langsung.

Karena memang sebelumnya sudah pernah mendengarkan langkah dan suara kaki pendaki ketika camping ceria di smart camp gunung luhur namun tak ada orang yang mendaki di pagi hari. Dan bahkan bekas langkah kaki pun tak kami temukan ketika mendaki gunung luhur. Sedangkan untuk khuyang kamu bisa menonton bagaimana ganasnya makhluk gaib tersebut di film Krause : In Human Kiss.

Pagi Menjelang, Siulan Burung Pun Silih Berganti Menyambut Bahagianya Hari. Menanti Senyum Sang Mentari Dari Balik Gunung.

Setelah sholat subuh, saya pun langsung berkeliling ke sekitar. Menyaksikan mentari menyinari dunia ini dari bebukitan dan balik gunung. Salah satu momen yang paling ditunggu, saya dan traveler lainnya sabar menanti penguasa pagi hari sampai petang ini menampakkan dirinya. Tapi sayangnya suasana tak begitu mendukung, karena mendung masih saja berselimut dingin.

Tapi tak mengapa tak mendapatkan sunrise yang dinantikan, karena masih ada kabut tipis dan sedikit lautan awan sebagai pengobat rindu yang bisa disapa. Sedangkan zifta masih dengan asyik tidur, membalas rasa kantuk yang harus di redam.

Sejuknya Curug Pancur, Dengan Ketinggian Lebih Dari 5 Meter Memberikan Ketenangan Bagi Diri yang Haus Akan Suasana Tenang.

Curug Pancur Bogor
Curug Pancur

Setelah puas menikmati camping area, kami pun akhirnya melanjutkan perjalanan menuju curug pancur yang masih satu kawasan dalam Pasir Buntung Camping Ground. Untuk menuju curug pancur sangatlah mudah dengan akses yang tergolong mudah. Di mulai dari jalanan yang datar dan hanya sedikit tanjakan.

Perjalanan Menuju Curug Pancur

Setelah berjalan kurang lebih 15-20 menitan, kamu akan disambut sebuah suara air terjun. Selangkah demi selangkah, akhirnya kami pun melihat curug tersebut yang diapit oleh sedikit hutan yang terawat. Ketinggian curug pancur ini diperkirakan lebih dari 5 meter dengan debit air yang kecil.

Air mengalir dari sebuah tebing, lalu disambut dengan segerombolan batu yang cukup besar-besar. Kemudian mengalir dengan santai dan membentuk kolam alami sekitar 1 meter.

Masih Dengan Semangat yang Sama, Kami Pun Melanjutkan Eskplore Ke Curug Emas.

Curug Emas

Berbeda dengan curug pancur, untuk mencapai curug emas justru jalananannya menurun dan tak ada tanjakan sama sekali, tapi untuk pulangnya berarti tanjakan semua. Curug ini merupakan salah satu favorit di kawasan pasir buntung camping ground.

Dengan ketinggian kurang lebih 2 meter, air terjun ini menghadirkan panorama yang memikat dan mengalir dari tebing ke bebatuan. Kamu bisa mandi dan berenang dengan bahagia disini, karena ada kolam alami buatan meski tidak begitu dalam. Selain itu, jika bosan dengan kolam ronangnya, kamu juga bisa menyusuri aliran air terjun emas ini.

Fasilitas di sekitar curug emas ini sangat baik, ada jemuran untuk menggantungkan baju. Ada juga toilet dan kamar mandi yang bisa kamu pergunakan untuk mengganti pakaian setelah leluasa dengan dinginnya air terjun ini.

Naik Turun Bukit Menuju Curug Tebing, Kenyataannya Lebih Dari 40 Menit Dari Curug Emas Tak Juga Bertemu.

Curug Emas

Sebenarnya salah satu curug yang paling bagus dan masih sepi adalah Curug Tebing. Menurut salah satu traveler yang menunjukkan fotonya ketika mengunjunginya sangatlah bagus. Tapi sayangnya, kami berusaha dan penasaran dengan keberadaan curug tersebut.

Karena rasa penasaran yang tinggi, akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan menuju curug tebing. Tanjakan demi tanjakan kami pun lalui dengan petunjuk seadanya, dan bahkan tanpa seorang guide sebenarnya nyasar di hutan menjadi pilihan. Tapi karena penasaran yang semakin tinggi, akhirnya kami tetap melanjutkan perjalanan sampai bertemu dengan sebuah gazebo di puncak. Lalu ada sebuah tulisan kembali petunjuk menuju curug tebing dan curug hordeng.

Kami pun masih menyusuri jalanan sesuai petunjuk, namun pada akhirnya kami memilih menyerah karena tak ada tanda-tanda orang pernah berkunjung kesana dalam waktu dekat. Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya jalanan yang ditimpa longsor dan susah untuk dilewati. Gagal dan pupus, hanya tinggal capek berjalan menanjak kurang lebih 40 menit dari tebing ke tebing.

Pada Akhirnya Sebuah Perjalanan Akan Selalu Memberikan Kenangan dan Kisah yang Menarik.

Sejatinya setiap perjalanan akan selalu menyimpan sebuah kenangan dan pembelajaran. Begitu juga dengan perjalanan menuju dan pulang dari Pasir Buntung Camping Ground. Salah satunya adalah, kisah sepasang kekasih yang menua bersama dan di usia senja masih harus mencari nafkah.

Sepasang kakek nenek yang dari Lamongan yang memilih berjualan pecel lele dan lainya di depan rumahnya. Dia menuturkan, di usianya yang senja mereka hanya hidup berdua. Sedangkan anaknya memilih tinggal di Surabaya karena mendapatkan pekerjaan disana. Begitu juga dengan anak-anak yang lainnya, memilih merantau juga.

Dia pun bercerita dengan raut wajah yang sendu, sebenarnya dia ingin menjual rumah tersebut dan kembali ke Lamongan. Tapi sayangnya, dari raut wajahnya juga, dia belum ikhlas untuk meninggalkan seluruh kenangan yang ada di rumah tersebut. Hal ini dibuktikan, karena tak ada juga tulisan rumah ini dijual.

Lalu pernah kamu berfikir kelak seperti apa masa tua yang akan kamu hadapi? Pada akhirnya kita hanya kembali tinggal berdua dengan tulang rusuk yang sudah kamu pilih menjadi istrimu bukan? Anak-anakmu pun, akhirnya kelak mempunyai keluarga sendiri dengan keadaan masing-masing. Jadi jangan pernah menyia-nyiakan orang yang sudah rela menghabiskan sisa hidupnya bersamamu.

Bila memang belum bisa membahagiakannya dengan kehidupan yang layak. Setidaknya jangan pernah menyakiti perasaannya dengan perkataan atau pun perbuatanmu. Cobalah turunkan sedikit egomu, karena pada akhirnya hanya dia lah yang akan menua bersamamu.

Harga, Tiket Menuju Pasir Buntung Camping Ground

Untuk menuju pasir buntung camping ground, kami mengeluarkan biaya sebagai berikut.

  1. Tiket Masuk Pasir Buntung Camping Ground dengan air terjunnya Rp. 130.000,-/ 2 Orang
  2. Bensin PP Jakarta Bogor Rp. 60.000,-
  3. Bekal Camping dan Jajanan Rp. 150.000,-/2 orang.
  4. Makan siang di rumah makan padang Rp. 34.000,-/2 orang
  5. Makan malam di pecal lamongan Rp. 40.000,-/2 orang.

Nah, itulah sekilas perjalanan kami menuju pasir buntung camping ground. Jadi kamu kapan kesana ya?