Team Pendakian Gunung Merbabu

Pendakian Gunung Merbabu, Si New Zealand van Java Nan Mempesona

3,081 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Sebenarnya ada rasa malas untuk menulis artikel perjalanan pendakian Gunung Merbabu. Karena takut di laporin ke google oleh admin pemilik Manusia lembah yang takut bersaing di google. Apa karena foto traveling kita yang instagramble sedangkan dia apalah-apalah (mengutip istilah Iis Dahlia), pantasan saja dia iri. Orang dia anonim juga ketika di cari informasi webnya. Atau mungkin dia kurang piknik dan bahagia sehingga suka usil hidup orang (haha).

Lanjut, Manusia Lembah Jangan Ganggu Gugat Blog Ngayap.com ya. Jika ada Masalah Bisa Kontak Saya di 0878 3930 3211. Jangan Main Curang Kampret…!!

Ada yang bilang, mendaki gunung itu membuat candu dan selalu ada pelajaran yang tak bisa dilupakan. Tak ada yang salah dengan kalimat tersebut, bagi para penggiat kegiatan outdoor yang satu ini memang selalu mampu membuat ingin kembali lagi. Begitu juga dengan team ngayap.com yang selalu candu untuk eksplore gunung di Indonesia untuk disajikan kepada pembaca setia. Haha..

Team Pendakian Gunung Merbabu
Team Pendakian Gunung Merbabu

Nah, kali ini kami akan membagikan pengalaman yang berharga tentang pendakian gunung merbabu. Gunung dengan ketinggian 3.142 Mdpl, yang terkenal dengan new zealand van java. Kenapa di sebut sebagai new zealand van Java..? Hal ini disebabkan karena tofografi alam selo yang mirip dengan Selandia Baru, yaitu perbukitan serta dipenuhi pepohonan yang membentang luas.

Pendakian Gunung Merbabu kali ini sungguh memberikan pengalaman yang tak terlupakan, mulai dari bertemu dengan orang yang baru sampai dengan membuat kulit terkelupas. Dan harus membiarkan diri ini menjadi cemong dan maskeran setiap malam (lebay memang). Untuk lebih lengkapnya, simak yuk catatan perjalanan dari ngayap.com berikut ini.

Stasiun Pasar Senen Menuju Poncol Semarang, Lanjut Dengan Menggunakan Motor ke Boyolali. Sungguh Perjalanan Selalu Memberikan Pengalaman.

Sebagai traveler yang hobby dengan low budget, tentu kereta selalu menjadi primadona untuk membawa diri ini ke lokasi tujuan. Saya dan Zifta berangkat dari Stasiun Pasar Senen dengan tujuan Stasiun Semarang Poncol. Kemudian istirahat sejenak di Semarang dan mengambil motor.

Menuju boyolali
Menuju boyolali

Setelah badan mulai segar dengan tetesan kesejukan dinginnya air semarang. Kami melanjutkan perjalanan menuju Boyolali dengan waktu tempuh kurang lebih 2,5 jam. Sungguh, selama perjalanan pemandangn gagahnya gunung Merapi, Sumbing, Sindoro selalu menghiasi mata ini.

Bukannya Malas, Hanya Saja Berbagi Sesama Dengan Menggunakan Ojek Motor Menuju Pos 1 Itu Pengalaman Tak Ternilai Dengan Rupiah.

Setelah perjalanan panjang yang melalahkan akhirnya kami sampai ke Basecamp, jangan lupa untuk simaksi dulu ya. Istirahat sejenak, packing ulang dan merebahkan tubuh ini menjadi kegiatan yang mahal harganya. Kemudian, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 1 dengan menggunakan ojek motor sampai dengan puncak gancik.

Ojek Gunung Merbabu
Ojek Gunung Merbabu

Turun dari ojek masih melanjutkan perjalanan kurang lebih 50 menit untuk menuju pos 1. Jalanan yang santai dan cenderung menanjak sedikit melatih kaki dan tubuh ini. Bahwa perjalanan pendakian gunung merbabu sah di mulai. Kami beristirahat sejenak di pos 1 untuk mengumpulkan tenaga yang sudah mulai terkuras.

Pos I – Pos II – Jalanan Mulai Menanjak Tapi Masih Terdapat Beberapa Bonus Pedakian ( 1 Jam 39 Menit).

Setelah puas beristirahat, kami mulai melanjutkan perjalanan menuju pos 2. Jalanan yang masih rimbun, pepohonan dan dedaunan yang hijau membuat perjalanan ini semakin semangat. Sesekali kami melihat gagahnya gunung merapi menjulang tinggi dan memberikan senyuman yang manis.

Pos II Gunung Merbabu
Pos II Gunung Merbabu

Seolah dia berbisik, jangan cuma mendaki gunung merbabu. Masih ada aku si Merapi yang memberikan keindahan dan tak pernah ingkar janji. Sebelum sampai pos 2 kami beberapa kali istirahat sejenak, untuk meregangkan otot-otot serta menghirup udara dan meneguk air minun yang harus di hemat.

Pos II – Pos III, Di Sambut Angin Badai Berselimut Kabut, Antara Syahdu dan Kaki Gemetaran Bercampur Menjadi Bahagia dan Pilu (1 Jam 5 Menit).

Sore mulai menyapa, tak segan sang penguasa siang hari mulai pergi ke peraduannya tanpa belas kasih. Meninggalkan kami tanpa hangatnya cahaya lagi. Dan terpaksa kami harus berjalan lebih cepat lagi, namun naasnya sang penguasa malam kurang bersahabat atau memang dia sengaja menguji kami.

Iya menguji rasa persahabatan kami, karena memang katanya mendaki gunung juga belajar bagaimana cara meredam ego. Tapi angin malam tetap saja berhembus dengan kencang, bahkan sesekali mampu menggoyahkan tubuh ini dari berdiri tegak menjadi miring akibat terbanting oleh angin.

Dingin, gerimis pun mulai bersatu menghantam kami. Namun, perjuangan belum berakhir, hingga akhirnya kami sampai pos 3. Dengan sisa-sisa tenaga dan terjangan badai, kami mendirikan tenda dan melawan angin karena selalu merubuhkan tenda yang kami dirikan sebelum berdiri dengan gagah.

Akhirnya tenda terpasang, kaki tak bisa digerakkan karena keram akibat kedinginan dan kecapean. Istirahat dan membiarkan otot tak tegang lagi, kemudian mengganti baju dan tidur dengan hembusan angin. Hingga akhirnya pagi menyapa.

Gagahnya Sang Merapi, Warna-Warni Tenda Para Pendaki Serta Lautan Awan di Gunung Ungaran Menjadi Pemandangan yang Keindahannya Tiada Tara.

Pagi mulai menyapa, tapi kami masih betah di dalam tenda. Bergulat dengan sleeping bag serta menunggu sang mentari menyinari dengan terang benderang, karena memang kondisi tubuh masih dalam keadaan lelah. Hingga akhirnya, kami mengintip dari luar tenda, Masyaallah sungguh lukisan Allah tak ada tandingannya.

View this post on Instagram

Terimakasih kepada pembaca setia ngayap.com dan bapermulu.com, berkat kalian yang selalu share artikel sampai 500K menjadikan website ini semakin berkembang dan menjadi salah satu pembuat content viral di Indonesia. Dan untuk share dan klik iklannya, thanks sehingga kami ingin selalu menyajikan hasil perjalanan yang menyenangkan dan menguak sisi hati yang perlu di ungkapkan secara jelas ======================================== Lok : Pos 3, Gunung Merbabu, Boyolali , Jawa Tengah, Indonesia. #travels #travelsmate #indotravelers #ayodolan #gununggedepangrango #pesonaindonesia_id #ngayap #kelilingindonesia #kelilingnusantara #like4likes #like4follow #likelike #follow4followback #follow4like #followersaktif #followersindonesia #ngayap #ngayapmulu #thisisindonesia #indonesianfoodlover

A post shared by Idris Hasibuan (@idrisshikamaru) on

Berjalan di sekitar, menikmati keindahan alam kemudian membuat secangkir kopi dan susu lalu menyantap mie instan. Sungguh bagiku ini tak ternilai dibandingkan makan di resto termahal sekali pun.

Pos III – Sabana I (Pos IV) – Tanjakan Menantang Dengan Bebatuan Serta Jalanan yang Lumayan Licin ( 1 Jam).

Tak ada basa-basi, tak ada bonus sama sekali. Dari pos 3 ini jalur langsung menanjak menaiki lereng bukit. Kondisi tanah yang labil dan lembab karena musim penghujan bisa membuat langkah kaki dapat terpelesat kapan pun. Sebenarnya, jalur ini tercipta karena adanya aliran air hujan ketika musim penghujan. Semakin lama kami menelusuri jalur ini, semakin curam juga track yang dilalui.

Menuju Pos 4
Menuju Pos 4

Semakin lama kaki melangkah, semakin miring juga jalur yang kami lewati dan dibebarapa bagian ada jalur yang mulai bercabang. Bukan hanya kemiringan 60 drajat lagi, tapi jalur semakin miring mencapai 70 drajat. Perlahan tapi pasti, lelah mulai menggerogoti, hanya seutas harapan dan segenggam semangat yang masih setia dalam hati. Dan rasa ingin menuntaskan pendakian gunung merbabu yang bisa menenangkan hati dan jiwa.

Akhirnya dengan penuh kegembiraan tiada tara. Inilah di pos IV, dengan hamparan luas sabana yang memanjakan mata sejauh mata ini memandang serta segerombolan tumbuhan edelwise dan cantigi. Pos ini juga sangat aman untuk mendirikan tenda kerena di apit oleh punggungan gunung dan perbukitan.

Pos IV (Sabana I) – Pos V (Sabana II) – Tanjakan Masih Menjadi Teman Setia Tapi Inilah Salah Satu Sabana Terindah di Indonesia.

Rasanya kaki tak ingin beranjak dari sabana ini namun melihat jam di tangan yang menunjukkan bahwa hari mulai siang. Akhirnya dengan terpaksa, kaki ini melangkah pelan-pelan tapi pasti. Perjalanan dimulai dengan menurun sedikit kemudian dilanjutkan dengan jalan yang mulai mendatar. Hingga akhirnya pendakian pun kembali dengan kemiringan sekitar 45 sampai 55 drajat.

Rasa dahaga mulai menghampiri, kaki pun rasanya semakin berat untuk melangkah. Tapi si zifta selalu memanggil aku yang jalannya semakin seperti keong, bahkan sesekali si kampret mendorong ku supaya tetap melangkah. Hingga akhirnya, lukisan Allah yang bernama Sabana II menyambut kami dengan senyuman tipis dan manis.

Welcome pendaki ngayap.com, ulas kamu sesuka hatimu dan jangan sampai ada kata-kata yang tak bagus. Itulah mungkin yang diharapkan oleh sabana ini. Disini juga ada sebagian pendaki yang mendirikan tenda, sedangkan kami hanya mengambil beberapa foto dan bahkan aku sampai ketiduran sekitar 4 menit sebelum si kampret menimpali badan gue dengan bobot 72 Kg yang membuatku langsung bangun dan shock.

Ketiduran di Sabana
Ketiduran di Sabana

Pos V ini sangat cocok juga untuk camping karena ada cekungan lembah namun karena posisinya yang terbuka, tentu dinginnya sangat menusuk ke tulang.

Pos V – Puncak Kenteng Songo, Semangat Sudah Berkurang, Seribu Alasan Untuk Istirahat Selalu Keluar Dari Bibir (2 Jam).

Setelah aku terbangun karena hentakan manusia yang tak di inginkan, akhirnya kaki pun melangkah perlahan tapi pasti. Tapi sungguh perjalanan menuju puncak inilah yang paling berat, karena masih dibutuhkan waktu sekitar 1.30 menit. Awalnya memang jalanannya masih landai, tapi setelahnya langsung di sambut tanjakan yang tiada tara.

Bahkan setiap 5 langkah kaki, aku harus istirahat karena memang kondisi dan tenaga yang sudah mulai hilang. Tapi berkat rasa haus yang semakin meninggi, terpaksa aku harus mengejar si zifta karena memang minum ada di dia. Bahkan di beberapa jalur menuju puncak, aku terpaksa jalan sangat pelan dan setiap ada batang pohon, langsung duduk di bawahnya.

Tara, akhirnya sampai juga dipuncak. Lautan awan dan rasa puas para pendaki lainnya terpancar jelas disini. Wajah-wajah bahagia karena telah menaklukkan sang merbabu selalu menghiasi wajah pendaki. Obrolan santai dan keramahan para pendaki juga selalu menghiasi area puncak kenteng songo.

Puncak Kenteng Songo – Puncak Triangulasi, Dua Puncak yang Menjadi Bukti Keindahan Gunung Merbabu Memang Tak Pernah Ingkar Janji.

Setelah puas dan istirahat yang cukup lama di Puncak Kenteng Songo, dan bahkan sampai ketiduran juga. Akhirnya kami memutuskan untuk menuju Puncak Triangulasi dengan ketinggian yang sama yaitu 3.142 Mdpl. Untuk menuju puncak ini dibutuhkan waktu kurang lebih 10 menit dengan jalanan menurun kemudian dilanjutkan dengan menanjak.

Puncak Trianggulasi
Puncak Triangulasi

Akhirnya lunas sudah menggapai puncak gunung merbabu, gunung yang terkenal dengan keindahannya ini resmi telah di abadikan dalam lensa-lensa handphone para pendaki. Lautan awan tetap menjadi pemandangan yang tak terbantahkan keindahannya serta gagahnya gunung merapi menjadi saksi bisu bahwa tanah Jawa memang di ciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum.

Cerita Turun Akan di Tuliskan di waktu lainnya, karena keterbatasan waktu penulis. Hahaha.. (Tak kalah seru kok) Tapi Jangan Sampai di Akui Si Manusia Lembah yang gak jelas itu ya…!

Catat Berikut Biaya-Biaya Traveling Menuju Gunung Merbabu.

  1. Tiket PP Jakarta – Semarang Rp. 300.000,- per orang
  2. Bensin selama perjalanan Rp. 50.000,- per motor
  3. Logistik Rp. 200.000,- per dua orang
  4. Simaksi Rp. 8.500,- Per orang
  5. Jajananan selama traveling Rp. 450.000,- per 2 orang, termasuk makan dan lainnya.
  6. Penginapaan di semarang Rp. 125.000,- per malam.

9 Replies to “Pendakian Gunung Merbabu, Si New Zealand van Java Nan Mempesona”

  1. Ah, bikin envy saja.
    Aku suka menikmati alam tapi nggak punya kekuatan sampai sejauh itu karena satu dua hal alasan.

    Anyway, asyik mendakinya kak meskipun di musim hujan yang pastinya banyak track yang berbahaya (bikin mudah terpleset). Yang penting kita hati-hati.

    Aku cuma pernah ke Ranu Kumbolo, itu saja lelahnya luar biasa. Tapi, lelahnya itu terbalas dengan indahnya pemandangan dari Tuhan.

    Ssmangat selalu menikmati alam ya Kak.

  2. Itu kalau saya ketiduran di sabana, sulit buat terjaga, karena saya bisa tidur di mana saja kan … manapula di sabana yang anginnya bikin tambah yahud kegiatan tidur ini huehehe. Asal jangan ada binatang melata saja … kabuuurrrr! Btw semangat terus!

    1. Hahaha… Bisa langsung bangun klo ada hewan melata gitu yaa.. Masa presiden negara kuning takuy hewan melata. Klo hewannya warna kunging gmana dah tuh

Tinggalkan Balasan ke Einid Shandy Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IBX5A924A2977604