Menggapai Puncak Gunung Gede, Si Laris Manis Dari Cianjur

Puncak Gunung Gede

44 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini

Tak dapat dipungkiri mendaki gunung belakangan ini terkadang dijadikan sebagai ajang unjuk diri. Pengaruh media sosial sepertinya menjadi faktor utama alasan olahraga ekstrim ini kian diminati kalangan anak muda. Bahkan ada beberapa gunung yang memang di peruntukkan khusus pemula yang ingin memulai berkecimpung di dunia pendakian. Salah satunya Gunung gede.

Buat kamu yang tertarik untuk mendaki, jangan lupa untuk memasukkan Gunung Gede ke dalam daftar list gunung yang harus kamu daki tahun ini. Karena dijamin kamu akan ketagihan dengan keindahan alamnya yang menyuguhkan salah satu lukisan tuhan paling indah di tanah Pasundan.

Belum percaya! Simak yuk catatan perjalan dari ngayap.com berikut, siapa tahu kamu akan segera menyusul kesana dan langsung mengepak keril yang sudah lama menganggur.

Kenalan Dulu Yuk Sama Teman Pendakian Ngayap Kali Ini. Selain Ramah Mereka Juga Sangat Bersahabat!

Untuk kesekian kalinya saya mendaki gunung gede dengan teman satu pabrik  yang kini sudah memilih menjalani karir di tempat lain. Saya perkenalkan satu persatu diri mereka dari pojok kiri sebelah saya sendiri itu wanita berhijab bernama eni dia adalah istri dari temen saya sendiri.

Gunung Gede
Kiri ke Kanan Rahman, Eni, Rion, Syifa , Asfin dan Teguh

Disebelahnya ada  rio tepat disebelah istrinya, lalu ada asfin seorang yang terlihat paling muda sendiri namun usianya terpaut jauh dari saya sendiri (hahaha). Patut di akui bahwa asfin sendiri itu pendaki tangguh tabah sampai akhir. Sebelahnya lagi itu ada syifa wanita yang strong meskipun awal pendakian dia sedikit jekpot karena masuk angin gara gara tidak tidur dibasecamp sebelum melakukan pendakian.

Nah, terakhir ada kang teguh jejaka sumedang dia itu orangnya humoris memang sih banyak garingnya di setiap leluconnya. Sudah kenal kan yaa!

Setelah Melakukan Kewajiban Hamba Kepada Sang Pencipta, Kami Memulai Perjalanan Mendaki Gunung Gede. Ganbate!

Tak terasa suara adzan subuh berkumandang dengan syahdu, menusuk ulu hati dan mengingatkan akan kewajban hamba terhadap sang Khaliq. Sebagai seorang hamba yang memulai taat, kami pun melaksanakan sholat berjamaah dengan khusuyk.

Setelah selesai sholat dan berdoa, kami melanjutkan persiapan pendakian seperti mengganti pakaian ala-ala pendaki gunung umumnya. Mulai dari memakai atribut sampai memakai aksesoris yang menunjang penampilan. (mau ke gunung apa ke mall yaa,haha).

Hanya Butuh Waktu 15 Menit, Pos Registrasi-Terentong

Setelah itu kita star pendakian melewati pos registrasi taman nasional gunung gede pangrango (TNGGP) buat ngecek pendaftaran pendakian, yang kita udah persiapkan dari 7 hari sebelum melakukan pendakian agar keselamatan kita digunung itu terjamin. “Inget ya kawan kita wajib registrasi” agar ketika sesuatu hal yang tidak diinginkan itu terjadi kita dapat ditanggung oleh asuransi jiwa. Booking busa dilakukan secara online di http.//booking.gedepangrango.org.

Pendakian pin dimulai yang diawali dengan berdoa dengan harapan selamat kembali kerumah masing masing.Perlahan tapi pasti, satu persatu anak tangga kami lewati dengan penuh ketabahan yang ditemani cahaya sorotan lampi headlamp yang sayup dan kadang redup.

Puncak itu hanya bonus, cukup tinggalkan jejak, abadikan momen, jaga lingkungan dan tujuan utama adalah kembali ke rumah dengan selamat.

Ada Juga Danau Cantik di Talaga Biru – Terentong-Telaga Biru (15 menit)

Hanya suara langkah kaki dan penghuni alam liar yang menjadi teman perjalanan kami. Selangkah demi selangkah yang ditemani obrolan santai dan sesekali dengusan nafas yang mulai ngos-ngosan. Belum lagi penyesuain tubuh dengan alam yang sungguh menyeka pilu.

Kejadian demi kejadian yang tidak di inginkan mulai kami alami, mulai dari teman yang mual sampai denga kelelahan. Padahal pendakian baru dimulai, hingga akhirnya kami memutusakan istrahat sejenak di Danau Biru.

Hingga akhirnya, tak terasa kami sudah sampi di salah satu danau yang ciamik yang disebut dengan Telaga biru. Tak lengkap rasanya jika tak mengabadikan moment disini sebagai penanda bahwa kaki ini sudah pernah melangkah di sini.

Puas Dengan Keindahan Telaga Biru, Saatnya Melanjutkan Perjalanan ke Rawa Pancayangan Dengan Jarak Tempuh 20 Menit. Telaga Biru-Rawa Pancayangan (20 menit)

Setelah istrahat di Telaga Biru dan tenaga sudah mulai pulih. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan selanjutnya. Jalanan yang belum terjal sungguh membuat perjalanan ini semakin asyik. Di mulai dari bebatuan dan krikil serta beberapa potong urat kayu menjadi hempasan kaki melangkah.

Hingga akhirnya jalanan setapak yang sudah tertata epik yang dikelilingi oleh hutan yang terawat cantik menjadi pemandangan yang keindahannya tak terbantahkan. Meski tergolong kaki masih mudah melangkah karena gak ada tanjakan yang menguras tenaga. Tapi tas cerril di punggung menjadi beban tersendiri yang penuh menguras tenaga.

Rawa Panyangcangan – Rawa Denok 1 Mengahbiskan Waktu Sekitar 10 Menit

Perlahan tapi pasti, kaki kami pun melangkah beriringan. Jalanan yang cukup bersahabat dan tidak ada tanjakan yang membuat nafas ngos-ngosan sunggu membuat perjalananan ini semakin asyik. Apalagi sesekali candaan si jejaka sumedang sungguh bisa membuat perut keroncongan karena ketawa terbahak-bahak.

Pondok Pemandangan – Air Panas (dari Rawa Denok 1 sampai Air Panas= 2jam 15menit)

Setelah 2 jam-an perjalanan selepas dari Rawa Denok sampailah kita pada Air Panas. Di Pos Air Panas ini adalah sebuah jalan menembus aliran air panas dari puncak gunung Gede. Trek yang akan kita lalui sangat ekstrim dan harus sangat hati-hati karena kita akan berjalan di atas aliran air panas yang sempit dan hanya berpegangan dengan seutas tali dan di bawah aliran tersebut adalah jurang yang curam.

Trek Perjalananan Ke Gunung Gede
Trek Air Panas via blog.ezytravel.co.id

Setelah melewati jalan air panas tersebut kita akan bertemu dengan shelter atau tempat istirahat dan di sana ada kolam kecil air panas, kita bisa berendam kaki di sana. Rasanya luar biasa.

Air Panas – Kandang Batu – Panca Weuleuh (1 Jam 10 Menit)

Selanjutnya perjalanan menuju Kandang Batu memakan waktu 1jam. Pos Kandang Batu adalah tempat yang cukup luas mampu menampung beberapa tenda. Dan jangan lupa untuk mampir sejenak melihat keindahan alam pendakian jalur cibodas yang terekam apik dengan air terjun mini Panca Weuleuh.

Panca Weuleuh – Kandang Badak (1jam)

Selanjutnya 1 jam perjalanan lagi kita akan sampai di Pos Kandang Badak. Nah, si pos inilah menjadi pos paling favorit para pendaki untuk mendirikan tenda dan bermalam. Di Pos Kandang Badak ini sangat berlimpah sumber air, ada tempat yang dibuat khusus seperti galon air untuk menampung air dari gunung. Di pos ini bisa menampung sampai puluhan tenda.

Kandang Badak
Kandang Badak

Kandang Badak – Puncak Gunung Gede (2jam)

Kaki melangkah perlahan, langkah kaki yang tak sekuat awal mendaki mulai terasa. Meski hati dan tekat masih mengembara, namun kondisi tubuh sudah mulai lelah. Perjalanan dari kandang badak menuju puncak gede sunggu menghabiskan sisa-sisa tenaga yang sudah mulai menipis.

Hanya teman perjalanan yang asyik dan selalu saling memberikan semangat menjadi cambuk tersendiri untuk menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang beridiri gagah di tanah pasundan. Nah, dalam perjalanan puncak gede juga kita akan bertemu dengan yang bercabang, dan ki kiri untuk puncak gede sedangkan ke kanan untuk puncak Pangango.

Dalam perjalanan menuju puncak Gede kita akan bertemu dengan jalan yang bercabang, satu jalan memutar, satunya lagi jalan via tanjakan yang sangat ekstrim dinamakan “tanjakan Setan”. Jika ingin dua-duanya kita bisa melalui jalur pertama saat berangkat, pulangnya bisa via jalur Tanjakan Setan

Jangan lupa juga, saksikan Vidio perjalanannya di sini yaa!

https://youtu.be/-rZfGB4v3R8

Artikel ini merupakan tulisan dari kontributor ngayap.com. Isi dan catatan perjalanan merupakan pengalaman kontributor dan sudah di edit oleh admin. Bagi kamu yang catatatan perjalananya dan fhoto-fhoto traveling kamu tampil di sini. Silahkan hubungi admin.

34 thoughts on “Menggapai Puncak Gunung Gede, Si Laris Manis Dari Cianjur

  1. Kalau ada waktu di weekend, biasanya gua juga naik gunung bareng teman-teman gua, maklum sejak zaman SMA mendaki gunung udah jadi kebiasaan, bukan soal eksistensi tapi lebih ke bagaimana melihat keindahan alam yang diberikan Allah Taala kepada kita hehe

    1. Asyik,, kalo pendaki yg memaknai pendakian sebagai suatu hal untuk menyatu dengan alam emank gitu tapi jaman sekarang gak bisa di pungkiri sebagai eksistensi di media sosial.

  2. Adu mas, lihat foto-foto seperti ini, jadi Rindu alam Papua. Andaikan bukan guru saya sangat ingin setiap saat menjelajahi Indahnya Bumi Pertiwi. Mas soal foto, saya harus bilang super dengan mas admin. Foto-fotonya bercerita, tanda profesional sejati #kagum dengan bidikan lensanya.

    1. Menjadi guru juga profesi yang mulia kok mas dan ada libur semesteran juga. Kita yg karyawan swasta malah libur tgl merah dan weekend doang mas 🤣😁

  3. Jalan itu memang kudu sama teman jalan yang sudah sepemahaman hihihi, supaya perjalanan lebih nyaman dan lebih menyenangkan meskipun perjalanan itu adalah mendaki gunung yangmana butuh tenaga/stamina yang bagus. Ditunggu cerita perjalanannya yang lain!

    Saya suka tulisan ini:
    Puncak itu hanya bonus, cukup tinggalkan jejak, abadikan momen, jaga lingkungan dan tujuan utama adalah kembali ke rumah dengan selamat.

    Really really love it!

  4. Gunung gede sudah masuk list sejak lama, tapi ga pernah didaki juga…wkwkwwkkwk. Dulu pernah jalan-jalan sampai taman cibodas saja. Suasananya sejuk dan tenang 😀

    1. Iyaa, silahkan di agendakan lagi kang. Cibodas juga memang sudah indah, klo belum sempat ke Gedenya bisa juga ke Air Terjun Cibereumnya.

  5. Trek air panasnya mantap tuh , pengen deh kapan2 menginjakkan kaki di puncak gunung ini.

    Btw maen2 ke Lampung. Ada G Seminung, Pesagi ama Raja basa yang puncaknya keren.

  6. Kayaknya seru kalo para blogger bisa mendaki gunung bareng..selain ajang silaturahmi bisa juga sharing-sharing dunia blogger sambil ngetrip…

    1. Mungkin mas, tapi jarang bangat blogger naik gunung kecuali emank travel blogger sama Bobby mendaki juga..

      Bahkan penulis travel di berbagai media juga kadang gak piknik kok hanya comot2 fhoto di IG

  7. jadi keinget masa-masa muda ama temen temen dulu.. kpn bs berkumpul bareng lagi.. smuanya udah pda berkeluarga.. ngurusin hidup masing”.. ya itulah hidup,,,semua ada masanya.. tapi bersama kalian akan menjadi sebuah kenangan terindah sampai akhir hayatku..
    salam satu hobi

  8. Wah ternyata dibalik ketenaran mistisnya, gunung Gede menyimpan banyak potensi wisata menarik, ya …

    Dari dulu cuma berkesempatan nikmatin pemandangan indahnya dari kejauhan.

    Itu asik banget jalur trekking air panasnya, aku suka 😁 !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *