Rimbang Baling, Destinasi Anti Mainstream Bagi Sang Petualang

1,186 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Rimbang Baling – Bagi anak muda jaman now, tempat wisata yang menyuguhkan pemandangan intagramable pastinya sudah mainstream dong ya! Pantai juga tak pernah sepi dikunjungi para pemburu sunset, hiking ke gunung apalagi sudah menjadi tren saat ini. Lalu kira-kira kemana lagi nih yang akan menjadi planning destinasi wisata kalian?

Pernahkah teman-teman sempat terpikir untuk mencoba berwisata ke hutan? Apasih yang terlintas di benak teman-teman ketika mendengar kata ‘hutan’? Tak sedikit orang bilang; “apa gak seram tuh di hutan? untuk berniat masuk ke tempat rimba saja rasanya sudah mengerikan, kalau gak nyasar ya paling bertemu hewan buas”.  Hehehe.

Eitss, tapi jangan mengira semua hutan semenyeramkan itu teman-teman. Ada salah satu hutan yang berpotensi menjadi destinasi ecowisata lho! Tepatnya hutan Rimbang Baling yang berlokasi di Kampar, Riau. Justru wisata menjelajahi hutan ini anti mainstream.

Kenalan Dulu, Yuk! Sekilas Mengenai Rimbang Baling.

Hutan Rimbang Baling merupakan kawasan Suaka Marga Satwa habitat bagi satwa langka serta penyangga kehidupan flora dan fauna di Sumatera, termasuk rumah bagi harimau Sumatera yang sudah hampir punah. Meski berstatus kawasan konservasi, pelestarian dan pengelolaan Rimbang Baling belum maksimal karena masih menjadi ancaman seperti penambangan, konversi hutan untuk perkebunan, dan perambahan.

Rimbang Baling
Rimbang Baling via instagram @rimbang_baling

Terlebih hutan ini adalah satu-satunya hutan yang tersisa di Riau pasca kebakaran hutan Riau, yang sempat menjadi problematika Negara selama beberapa tahun silam.

Hutan Rimbang Baling bukanlah hutan dataran rendah, medan di hutan ini terdiri dari perbukitan. Di hutan Rimbang Baling terdapat  Sungai yang alirannya melintas seolah membelah kawasan hutan, namanya sungai Subayang. Sekedar info, di Rimbang Baling juga berdiri markas WWF Indonesia lho!

Sungai Subayang di Baling Rimbang
Sungai Subayang via instagram @rimbang_baling

Tidak Hanya Hutan Rimba, Namun di Rimbang Baling Terdapat Beberapa Desa yang Penduduknya Masih Terisolasi.

Nah, teman-teman tidak akan mengira kalau ternyata di Rimbang Baling terdapat juga manusia sebagai penghuninya, selain flora dan fauna langka yang dilindungi. Pengalaman saya yang pernah menelusuri pedalaman Rimbang Baling, saya mengunjungi salah satu desa yang berada di sana, yaitu Kenegerian Koto Lamo, tepatnya di Kampar Kiri Hulu, Riau. Kenegerian ini sendiri artinya adalah desa, yang mana di sana terdapat 6 suku dan dipimpin oleh 6 kepala suku, para kepala suku ini dipanggil dengan sebutan ‘Datuk’.

Anak-anak kota Lamo Rimbang Baling
Anak-anak Koto Lamo via facebook.com/saverimbangbaling

Menurut catatan sejarah, Kenegerian Koto Lamo ini sudah ada sejak abad ke-16. Kenegerian Koto Lamo termasuk desa yang masih terisolasi dan juga tidak adanya sinyal di sana. So, bagi teman-teman yang hendak ke sana, siap-siap gak bisa online di Sosmed ya! Hehehe. Namun, ada beberapa titik lokasi yang terdapat sinyal pastinya ini harus sedikit usaha dengan menaiki bukit,  itu pun hanya mampu untuk menelpon dan sms, juga hanya operator ‘si merah’ saja yang sinyalnya mampu menembus rimbanya hutan (tak perlu sebut merk, pasti teman-teman juga sudah tahu).

Rimbang Baling Juga Berpotensi Menjadi  Kawasan Ecowisata. 

Cerita bagaimana saya bisa terdampar sampai di hutan Rimbang Baling, beberapa bulan lalu saya berkunjung ke sana menghadiri undang festival yang diselenggarakan oleh partner kerja, yaitu Rumah Budaya Sikukeluang. Rumah Budaya Sikukeluang ini sendiri bermarkas di Pekanbaru. Dan tim dari Rumah Budaya Sikukeluang ini lah yang menjadi penggiat untuk mengkampanyekan lestari adat lestari hutan, dengan hastag #saverimbangbaling.

Rimbang Baling
Wisatawan Rimbang Baling via facebook.com/saverimbangbaling

Teman-teman dari Sikukeluang melihat para penduduk Koto Lamo, yang mana mereka secara turun temurun ada untuk menjaga hutan Rimbang Baling dengan adat dan kearifan lokal. Maka saat ini Rumah Budaya Sikukeluang sedang menjalankan program wisata ecotrip di Rimbang Baling.

Rute Perjalanan Menuju Rimbang Baling.

Untuk menuju ke kawasan hutan Rimbang Baling, lumayan membutuhkan perjuangan. Dari Pekanbaru teman-teman akan melakukan perjalanan jalur darat menuju desa Gema, yang jarak tempuhnya memakan waktu kurang lebih 2 jam dengan mobil.

Sesampainya di Desa Gema, teman-teman melanjutkan perjalanan jalur air. Teman-teman harus menyeberangi sungai Subayang menuju Desa Koto Lamo dengan piyau (perahu), tapi tak perlu khawatir karena piyau ini sudah menggunakan mesin, jadi teman-teman tidak akan susah payah mengayuh sampan kok! Hehehe.

 

Menyusuri sungai Subayang via instagram @nurikaej

Perjalanan dengan piyau ini memakan waktu kurang lebih 2 – 3 jam tergantung kondisi air sungai dan beban muatan perahunya. Kedengarannya memang melelahkan ya, tapi kenyataannya tidak serumit cerita saya di atas.

Meski Menghabiskan Perjalanan yang Panjang, Tenang Saja Kamu Tak Akan Bosan Karena . .

Namun, perjalanan panjang tersebut tidaklah membosankan, karena selama perjalanan menyusuri sungai Subayang, teman-teman akan disuguhi pemandangan yang sangat luar biasa indahnya. Di kiri dan kanan sepanjang sungai, terdapat hutan dan perbukitan yang ditumbuhi pepohonan hijau menjulang tinggi.

Air sungai yang sangat jernih berwarna hijau tosca, sehingga bebatuan cokelat serta ikan-ikan didasarnya terlihat dengan sangat jelas. Tak luput juga pasir putih menghiasi sepanjang tepian sungai.

Kawanan kera di pinggir sungai Subayang via instagram @rimbang_baling

Di sela perjalanan sering muncul beberapa satwa penghuni sungai dan hutan, diantaranya ada biawak, babi hutan dan sekumpulan kera, suara kicau burung serta jangkrik di antara pepohonan bersenandung. Wah, bisa kalian bayangkan, kan! suasana seperti ini tidak akan teman-teman temui di hiruk pikuknya kawasan Kota.

Ada Apa Saja Sih, yang Menarik Menjadi Tempat Wisata di Rimbang Baling?

Konsep wisata Rimbang Baling ini sama seperti mendaki gunung, kita membutuhkan peralatan outdoor karena otomatis kita akan camping di kawasan hutan. Hanya yang membedakan adalah, teman-teman tidak perlu mendaki ketinggian di atas permukaan laut.

Camping ground #saverimbangbaling via instagram @rimbang_baling

Untuk tempat camping sendiri sudah disediakan camping ground tepatnya di pinggir sungai Bio, pastinya tak jauh juga dari pemukiman penduduk Koto Lamo. Sungai Bio ini sendiri adalah sungai yang berada di Desa Koto Lamo, yang mana sungai ini sebagai sumber kehidupan para penduduk.

Balai tamanuang via instagram @rimbang_baling

Di camping ground, teman-teman bisa melihat indahnya sungai Bio dari balai tamanuang. Di sana juga terdapat hammock bagi teman-teman yang ingin bersantai. Atau teman-teman juga bisa menikmati kesegaran air di sungai Bio dengan mandi serta berenang, tetapi harus mengikuti peraturan dan ketentuan yang diterapkan oleh penduduk Koto Lamo. Mengingat bahwa mereka masih memegang teguh adat yang harus kita hormati.

Malam di Rimbang Baling via instagram @rimbang_baling

Saat malam harinya, jika teman-teman beruntung dan cuaca mendukung, teman-teman bisa melihat langsung langit Rimbang Baling yang dihiasi bintang-bintang nan cantik.

Ada Juga Rumah Adab Kenegerian Koto Lamo yang Siap Menambah Wawasan Kebudayaanmu.

Selain itu, teman-teman boleh juga berkunjung ke galeri Rumah Adab Kenegerian Koto Lamo. Rumah Adab ini sedang dalam proses pembentukan dengan tujuan agar siapapun yang datang berkunjung bisa melihat sejarah masyarakat Koto Lamo, mengetahui budaya dan hukum adat yang berlaku, mengerti dan ikut peduli terhadap seni dan kebudayaan lokal Koto Lamo.

Rumah Adab Koto Lamo via instagram @rimbang_baling

Dan bagi penduduk Koto Lamo, Rumah Adab ini diharapkan menjadi simpul ingatan terhadap sejarah, identitas diri, kekuatan adat dan budaya serta alam yang kaya mengelilingi mereka, agar tetap optimis dan percaya dengan apa yang mereka miliki.

Bukit Rumput Manis via facebook.com/saverimbangbaling

Tak jauh dari Desa Koto Lamo, terdapat Bukit Rumput Manis. Untuk menuju Bukit Rumput Manis, waktu perjalanan yang ditempuh kira-kira 1 jam dengan berjalan kaki. Di bukit ini teman-teman bisa melihat pemandangan hutan Rimbang Baling dari ketinggian, yang dihiasi awan-awan berlalu lalang di atasnya. Oleh karena itu, tempat ini dinamakan ‘Gerbang Awan #saverimbangbaling’ . Waah, keren ya!

Camping ground Gerbang Awan via instagram @rimbang_baling

Dan lebih asik lagi, Camping Ground juga tersedia di Gerbang Awan lho! Selain teman-teman bisa berfoto ria, teman-teman juga bisa bersantai di Camping Ground Gerbang Awan sambil menikmati keindahan Rimbang Baling dari ketinggian.

Gerbang Awan #saverimbangbaling via facebook.com/saverimbangbaling

Walau tak bisa eksis di Sosmed saat traveling, namun foto-foto epic pengalaman di Rimbang Baling bisa diungah saat teman-teman kembali ke Kota. Jangan lupa sertakan hastag #saverimbangbaling di postingan kalian.

Bagaimana Sih, Cara Untuk Menuju Rimbang Baling?

Wisatawan santai di Gerbang Awan #saverimbangbaling via instagram @rimbang_baling

Rumah Budaya Sikukeluang mengadakan open trip bagi para wisatawan yang ingin berkunjung dan ingin mengenal lebih dekat mengenai Rimbang Baling. Mereka membuka open trip pada saat weekend dengan biaya sebesar Rp. 750.000,-/orang, dengan ketentuan wisatawan yang hendak berkunjung haruslah berkelompok minimal berjumlah 6 orang. Untuk berwisata ke sana, Rumah Budaya Sikukeluang menetapkan meeting point-nya di Pekanbaru.

Harga sebesar Rp.750.000,- mahal? No! Justru dengan biaya sekian, wisatawan hanya cukup membawa diri. Jadi, apa saja sih yang didapat dengan biaya sekian? berikut rinciannya:

  1. Transportasi jalur darat & sungai
    *Jalur darat; Pekanbaru – Desa Gema (PP) dengan mobil
    *Jalur sungai; Desa Gema – Desa Kotolamo (PP) dengan piyau/perahu
  2. Homestay di camping ground untuk menginap selama 2 hari 1 malam
  3. Konsumsi; makan 3 kali (makanan khas desa Koto Lamo), sarapan 1 kali, snack 3 kali, dan coffebreak 3 kali
  4. Peralatan grup; tenda, hammock, kompor, nesting dan penerangan
  5. Tube rafting; benen, safety helmet dan life jacket
  6. Foto di Bukit Rumput Manis
  7. Dokumentasi kegiatan
  8. Tour Guide berpengalaman

Nah, bagaimana teman-teman? dapat banyak kan! So, harga tersebut sudah sepaket. Dan teman-temanpun merasakan berwisata di tempat yang anti mainstream. Pasti tidak akan menyesal lho, karena siapapun yang pernah berkunjung ke sana akan ketagihan dan suatu saat akan rindu dengan para penduduk Koto Lamo yang sangat ramah. Teman-teman bisa kontak Rumah Budaya Sikukeluang dengan mengunjungi website http://www.rimbangbaling.net atau instagram @rimbang_baling.

Jadi Bagaimana Teman-Teman? Kapan Traveling Bareng ke Rimbang Baling? Sekali Seumur Hidup Harus Kesana yaa!

Pemandangan Rimbang Baling via instagram @rimbang_baling

Bagi teman-teman khususnya yang berdomisili di pulau Sumatera, provinsi Riau atau yang dekat dengan wilayah Riau, tidak ada salahnya untuk mencoba berwisata ke Rimbang Baling. Karena selain teman-teman berwisata, pasti teman-teman akan mendapatkan pelajaran dan pengalaman berharga. Lebih mengenal penduduk Koto Lamo, meski mereka terisolasi tetapi semangat mereka tidak pernah padam untuk menjaga satu-satunya paru-paru dunia yang tersisa di Riau.

Dan teman-teman yang sudah berkunjung ke sana, secara tidak langsung tersadarkan akan pentingnya juga untuk menjaga hutan yang menjadi sumber kehidupan manusia. Diharapkan dengan program ecotrip yang digerakan oleh Rumah Budaya Sikukeluang, bisa menularkan semangat kepada teman-teman untuk mendukung menjaga kelestarian hutan Rimbang Baling dan aneka ragam hayati yang ada di dalamnya.

Bagaimana? Tertarikkah teman-teman untuk berkunjung ke Rimbang Baling?

42 thoughts on “Rimbang Baling, Destinasi Anti Mainstream Bagi Sang Petualang

      1. Dingin mah biasa ya, Mas. Kadang gak di puncak kalau cuaca dingin mah tetap aja dingin. Asal jangan dingin aja sikap dia ke aku..haha

        Oh, ya, btw habis lebaran jadi ke Andong kah, Mas?

  1. Ya Tuhan…Seperti negeri di atas angin. Luar biasa keindahannya. Semoga suatu saat dapat berkunjung ke situ.

    Termiakasih sudah membagi postingan informatif ini Broh?

    Salam…

  2. Wisata susur sungai 2 sampai 3 jam seperti itu … keren.
    Langsung teringat adegan film ‘anaconda’ … xixixi 😁

    1. Hahaha,,,

      Ingatannya horor yaa, kirain ingat flim air terjun pengantin versi indonesia atau versi thailannya judul lupa tapi lebih seru perjalannannya

      1. Hahahahahaa … 😅
        Soalnya yang paling teringat ukuran guedeeenya ular anaconda saat nyerang di rawa …

        Suasana pemandangannya di film persis sama kayak di foto diatas 😁

  3. Aku tinggal di Lipatkain, dan lokasi itu sekitar 4 – 6 jam dari kampungku. Bukan jaraknya yang bikin lama, tapi akses menuju lokasi yang tidak dapat ditempuh dengan transportasi darat yang bikin lama.

  4. Wah.. Iya memang melewati daerah Lipatkain. Sempat juga istirahat di sana sebelum melanjutkan perjalanan ke Desa Gema.

    1. Iyaa, Belakang rumahku saja di kampung ada kera klo lagi musim buah. Buahnya di habisin mereka, pengen aku bunuh semua kera nya, haha

      Apalagi di kebun, lebih banyak lagi

  5. Suka dengan pemandangan malamnya. Bintang-bintangnya cantik mungkin karena wilayahnya masih tidak terkontaminasi dengan polusi.

  6. Sungai Subayang….hhhmm..ga terbayangkan betapa indah pemandangannya. Deket situ rupanya ada kantor WWF ya keren.

  7. suka sekali dengan alam bebas tapi sekarang fisik sudah tidak mendukung paling liburan ya deket-deket saja bang

  8. Di tempat-tempat yang terbilang masih terisolasi, memang banyak menyuguhkan panorama keindahan alam. Seperti destinasi wisata Rimbang Baling ini, hutannya masih alami dan air sungainya pun sangat jernih. Dan tentunya sangat cocok dijadikan tempat wisata.
    Jadi pengen ke sana. Hahaha

  9. Bagi penyuka eskapisme sejenak, kondisi alam semacam itu sangat pas untuk dinikmati. Mungkin berat medannya ya, tapi kayaknya worth it dengan pemandangannya.

  10. Ini agak mirip negeri diatas awan Dieng Mas ?, Etapi lebih komplit Ada sungai2 nya juga. Bagi info rute nya dong hehehhe.

    1. Klo ke Dieng udah 3 kali saya emnk gak ada duanya. Rutenya sudah ada di atas mas, disarankan emnk gunain open trip mepo pekanbaru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *