Menengok Sejenak Suku Baduy, Desa Adat Pelestari Budaya Indonesia

Eksplore Suku Baduy

1,066 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Suku Baduy – Terletak di ujung barat Pulau Jawa, tepatnya di Provinsi Banten, terdapat sebuah desa dengan kearifan lokal yang masih sangat kental. Nggak sedikit orang yang mengunjungi desa ini, entah sekadar liburan, menghilangkan penat hidup di perkotaan atau hanya sekedar untuk berdamai dengan diri sendiri.

Di sini kamu bisa mengenal kebudayaan masyarakat Baduy dengan lekat. Mereka begitu ramah dengan para pengunjung. Kamu boleh menginap dan bersosialisasi dengan warga sekitar dengan leluasa, kecuali satu hal. Nggak boleh menggunak gejet ketika berada di desa Baduy Dalam ini! Haha. Bisa nggak kamu hidup tanpa gejet?

Nah! Kali ini saya akan membahas perjalanan yang penuh arti dan kisah bahagia ketika menjelajahi Suku Baduy bersama salah satu jasa open trip. Simak yuk!

Di Mulai dari Drama Ojek Online, Akhirnya Sampai Juga ke Stasiun Tanah Abang Dengan Tepat Waktu

Jam 6 pagi saya berangkat dari Kosan di Priuk, kemudian langsung memesan ojek online dengan tujuan stasiun Tanah Abang. Awalnya saya kaget karena si babang ojek ternyata tinggal tak jauh dari kosan dan akhirnya berujung pada mendengarkan curhatannya.

Bukan hanya mendengarkan, parahnya lagi. Untuk menuju stasiun tanah abang, drama nyasar pun dimulai. Mulai dari nyasar akibat GPS yang salah memberikan petunjuk jalan sampai dengan bertanya pada orang yang tak tahu arah. Dan akhirnya, jam 7.50 sampai juga ke Stasiun dan langsung bertemu dengan admin kemana-lagi.com karena memang dialah yang mengajak trip kali ini.

Selama 2 Jam Berdiri di Commuter Line Itu Rasanya Seperti Menunggu Kepastian Dari Kamu yang Tak Kunjung Menyatakan “Iya”

Pernah gak kamu merasakan menunggu jawaban iya dari gebetan, kalo aku mah gak pernah sech karena selama ini selalu langsung dapat jawaban iya. Dan bahkan pernah dia juga yang menunggu jawaban aku meski pada akhirnya ku bilang jalani saja dulu.

Suku Baduy
Perjalanan Menuju Rangkas Bitung

Tak jauh berbeda dengan menunggu jawaban “iya”, berdiri dari stasiun tanah abang sampai ke Rangkasbitung rasanya pegal dan capek. Meski selama perjalanan ngobrol sama teman juga yang bisa mengurangi rasa capek. Setelah sampai ke stasiun Rangkasbitung, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan angkot menuju arah Ciboleger kurang lebih 1 jam 45 menit.

Selamat Datang di Perkampungan Suku Baduy, Patung Suku Baduy Menyambut Para Pengunjung Dengan Senang Hati. Moment Kudu di Fhoto Ini Mah!

Setelah menjalani hubungan yang tidak halal dan akhirnya kandas di tengah jalan ganasnya Jalanan Rangkasbitung yang penuh dengan rintangan, akhirnya sampai juga di titik awal untuk memulai perjalanan ke Suku Baduy. Nah, pemandangan yang luar biasa sudah bisa kamu lihat disini.

Patung Selamat Datang di Desa Ciboleger Suku Baduy
Patung Selamat Datang di Desa Ciboleger

Beberapa anak suku baduy sedang asyik mengobrol santai dengan para pengunjung, ada juga yang belanja di Alfamart. Dan mereka juga sudah terbiasa dengan para pengunjung meski sebagian masih malu-malu.

Kurang Lebih 3 Jam 30 Menit, Perjalanan Dengan Tracking Penuh Suka Duka di Mulai. Mulai dari Jembatan Bambu Sampi Tanjakan Cinta. Semuanya Penuh Arti dan Perjuangan.

Setelah semua peserta sudah lengkap dan diberikan brefing sedikit oleh tour guide. Perjalanan tracking pun dimulai. Dimulai dari gerbang selamat datang, dan berjalan 5 menit kemudian kamu akan melihat aktivitas suku baduy yang sedang menenun dan jangan lupa lihat cewek cantik yang sedang menenun juga karena bisa bikin bahagia.

Selangkah demi selangkah kaki mulai beranjak menginjakkan bumi suku baduy, jalanan yang santai, terjal dan bebukitan akan dilalui. Menit demi menit berlalu begitu saja, dan sesekali melintasi pemukiman suku baduy. Sebenarnya sangat banyak desa yang dilalui ini.

Suku Baduy dan Herman
Rahman dan Bocil Baduy

Nah, salah satu jalanan yang bisa membuat kaki lemas adalah tanjakan cinta. Tanjakan dengan kemiringan 80 derajat dibawah teriknya matahari membuat denyut jantung berdetak lebih kencang, gak jauh berbeda ketika mau memutuskan hubungan dengan kekasih yang seharusnya tak pernah di jalin.

Meski lelah selama perjalanan yang kamu alami, semua pengalaman yang diperoleh tak akan tergantikan dengan perjuangan kamu. Oh ya, bagi kamu yang tidak bisa membawa tas kamu, kamu bisa kok menyewa porter dari baduy, mereka dengan senang hati membantumu.

Perkampungan Suku Baduy
Pemukiman Penduduk

Selama perjalananΒ  kurang lebih 3,5 jam. Kamu akan bahagia kok karena ditemani dengan rindangnya pepohonan dan tentunya melihat aktivitas mereka secara langsung akan membuat mengerti tentang ke arifan lokal. Dan setelah sampai Baduy dalam, kamu tidak diperbolehkan mengggunakan kamera dan handphone ya.

Di Malam Hari, Tak Banyak yang Bisa di Lakukan. Hanya Mengobrol Sesama Pengunjung Serta Beramah Tamah Dengan Suku Baduy Dalam

Karena tidak boleh menggunakan gedget, di bawah langit yang gelap dan hanya beberapa bintang yang menyinari sedangkan rembulan belum sudi menunjukkan cahayanya. Akhirnya malam hari hanya bisa diisi dengan acara ngobrol santai tanpa pembicaraan yang jelas.

Sehingga akhirnya mata terlelap dan suara ayam mulai sahut menyahut dengan berkokok menandakan pagi sudah mulai menanti. Dan setelah sarapan pagi perjalanan pulang pun dilakukan.

Mengejutkan Memang, Tapi Fakta-Fakta Tentang Suku Baduy Dalam Ini Bisa Membuatmu Berfikir Ulang Lagi.

Awalnya, aku mengira bahwa di Baduy Dalam itu memang benar-benar tradisional dan terisolasi bangat. Tapi berhubung sekarang memang sudah menjadi destinasi wisata, jadi mungkin saja mereka sudah terkontaminasi sebagian.

  • Anak-anak baduy dalam lebih suka sosis dibadningkan dengan orea, bahkan mereka dengan senang hati melahap sosis dengan cepat.
  • Tidak boleh memelihara hewan berkaki empat dengan alasana tertentu. Jangan tanya kenapa, mungkin saja mereka tidak memberikan jawaban untuk pendatang.
  • Karena di dalam KTP hanya di akui agama-agama yang sudah ada di Indonesia sedangkan mereka tidak menganut agama yang sudah disahkan undang-undang, dan saat ini mereka …. , semoga berhasil ya pak.
  • Makan dengan menggunakan mangkok sama kayak orang jepang, cuma gak pake sumpit saja sekalian.
  • Ada transaksi jual beli seperti penjual kopi instan, mie instan. Jadi jangan takut kelaparan.

Untuk fakta-fakta lainnya kamu bisa langsung berkunjung kesana, supaya kamu tidak penasaran.

Kurang Lebih 3 Jam, Perjalanan Pulang Dari Baduy Penuh Dengan Destinasi. Jangan Sampai di Lewatkan yaa!

Setelah selesai sarapan, akhirnya kami pun pulang sekitar jam 8. Untuk jalanan dimulai dengan menanjak sedikit kemudian perlahan-lahan mendatar dan berbelok-belok sampai dengan menanjak lagi. Tapi perjalanan kali ini berbeda dengan perjalanan pas datang karena memiliki jalur yang berbeda.

Jembatan Akar Suku Baduy
Jembatan Akar

Selama perjalanan, ada sebuah destinasi yang menjadi ikon wisata suku baduy yaitu jembatan akar. Jembatan akar ini memang salah satu spot yang harus diabadikan, karena jika tak di abadikan tak lengkap rasanya berkunjung ke baduy. Nah, dibawah jembatan ada sebuah sungai yang berwarna hijau.

Jadi kamu bisa berenang sampai puas serta bagi kamu yang mempunyai nyali, kamu bisa meloncat langsung dari bebatuan ke sungai. Oh iya, disini hanya dua orang yang mandi karena yang lainnya tidak karena sudah terlanjur capek selama perjalanan kali.

Sungai Ciboleger
Teman Ngetrip dari Cilegon, Lupa Namanya

Karena saya orangnya tak kuat melihat air mengalir, saya mah langsung mandi dan berenang santai. Hitung-hitung untuk olahraga.

Anti Mainstream, Punya Teman Ngetrip Gokil dan Kocak Itu Menambah Tingkat Kebahagian. Sampe Lupa Klo Tahun Ini Bakalan di Tanya Kapan Bawa Mantu Nak!

Nah, untuk trip kali ini adalah salah satu pengalaman trip paling berharga dalam hidupku karena ini yang kedua kalinya sampai seperti ini. Waktu itu pernah juga ngtrip ke Kebumen sampai kaki gak bisa melangkah lagi karena sakin capeknya dan berujung pada nebeng pick up ditengah terinya matahari.

Trip kali ini juga ada beberapa peserta yang gokil dan kocak, mulai dari yang bisa negbully sampai puas, ada juga yang sedikit-dikit nyanyi dan ada juga yang joke nya sering gak nyambung dan selalu mikir jika sedang diberikan joke. Dan diantara semua yang paling berharga bagiku adalah duduk manis diatas angkot ditemani dengan angin sepoy dan teriknya matahari.

Dan tak lupa juga sesekali dicium sama dedaunan yang menampar pipi dengan manja. Gubrak!

Kali Ini, Saya Juga Ngetrip Bareng Admin kemana-lagi.com yaitu Bro Rumi. Intip Juga yuk Catatan Perjalanannnya!

Sebenarnya trip ke Suku Baduy ini merupakan ajakan dari admin blog kemana-lagi.com. Awalnya waktu itu saya bingung, mau ngikut ajakan teman ke Semeru atau ke Baduy. Tapi akhrinya saya sangat beruntung mengikuti trip ke baduy ini.

Kemana-lagi.com merupakan salah satu blog yang membahas tentang traveling. Dan uniknya blog ini benar-benar murni hasil traveling bro admin yang dibahas. Di blog ini sendiri ada tiga menu utama yaitu Backpaker, Rafting dan Solo Backpaker.

Suku Baduy
Mimin Kemana Lagi Narsis Sama Bocil Baduy

Tagline Blog kemana-lagi.com adalah Pekerjaan, Sandang, Papan, Cas-an,Jalan2

Dan menurut aku juga agak aneh sebenarnya kenapa admin lebih suka Solo Backpaker dibandingakn dengan traveling bersama teman, sahabat atau mantan. Biar kamu gak penasaran, kamu bisa langsung cek kemana-lagi.com dan jungan lupa juga meninggalkan jejak disana.

Biaya-Biaya Traveling Ke Suku Baduy, Gak Mahal Kok.

  1. Biaya Open Trip Rp. 250.000,-
  2. OJek Online + Tips Rp. 45.000,- Tiket Busway Manggari ke Priuk Rp. 3.500,-
  3. Jajanan selama trip Rp. 125.000,-
  4. Oleh-oleh buat suku baduy berupa beras, kopi dan mie Rp. 60.000,-

74 thoughts on “Menengok Sejenak Suku Baduy, Desa Adat Pelestari Budaya Indonesia

  1. analoginya lucu juga hihihi…sekalian curhat ya… btw jembatan akarnya asik juga, tapi agak serem juga kalo lewat…

  2. seru juga ya bisa berkunjung ke salah satu suku yang masih menjaga adat, sayangnya gak boleh menggunakan kamera jadi gak bisa mengabadikan momen.

  3. Kalau liat lokasi dan Perumahan Suku Baduy ini, saya jadi ingat cerita2 kakek dahulu kalau Desa saya dahulunya tidak semodern sekarang ini.

    Alam disana masih sejuk dan nyaman yach Mas.. : ) . Cari jodoh orang sana saja Mas,,, πŸ™‚ sekedar usul iseng sich, heheheh… πŸ™‚

  4. Dekat dengan tempat tinggalku.
    Baduy luar atau baduy dalam kak ?
    Seru tempatnya. Btw orang baduy kalau kemana-mana jalan kaki tanpa alas apapun sampai berpuluh-puluh kilometer.
    Biasanya mereka jualan madu atau kerajinan tangan buatan mereka
    πŸ˜€

  5. baduy ini memang memang memiliki keunikan sendiri yang bang apalagi kalau mereka jalan beriringan masuk ke kota, semoga terus terpelihara budaya mereka

  6. suku badui sangat terkenal namanya di kabupaten saya tempat tinggal, suatu suku yang hebat sering membawa nama Indonesia di tingkat internasional
    Fotonya jos top markotop, kok bisa ya jernih begitu mas

  7. Pertamakali aku lihat beberapa orang Baduy berjalan kaki saat dulu aku kerja di Jakarta.
    Dengan pakaian seba hitam, bertali kepala ,tanpa alas kaki dan bawa tas akar rotan …
    Penampilan mereka jadi pemandangan unik.

      1. Aku herannya , telapak kaki mereka kok ngga kerasa panas ya berjalan di jalanan beraspal ?.

        Sewaktu kamu kesana, beli ikat kepala khas Badui, ngga ?

  8. keren ih aku juga kepengen liat suku2 baduy ini
    apalagi tentang cara hidup mereka
    padahal gak jauh dari JKt tapi masih bisa jaga budayanya gitu

  9. duhh udah lama gak ke baduy setelah baca artikel ini jadi pengen ke sana lagi , seru soalnya bisa ketemu orang baduy dan merekan sopan2. pemandanganya juga sangat luar biasa nice artikel bro…

  10. Tanjakan Cinta? Namanya emang tanjakan cinta yah mas? Gila aja sampe 80 derajat? Pasti lemes banget dong yah haha.

  11. Serunya jalan-jalannya, mas! Ngalir juga tulisannya, suka deh bacanya. Air ijonya kok semacam kaya ada lumutnya ya, hehe…

      1. Owalaah kirain ijonya karena lumut. Dalem juga berarti kalau nyelam nggak nyampe nyampe. Nggak takut buaya mas?

  12. waduh, menunggu jawaban yang tak pasti dari si dia memang bikin gimana gitu mas.. hehehe..
    hidup tanpa hape semalaman memang greget mas, saya setahun sekali juga gitu..
    pas nyepi.. πŸ™‚

  13. Pretty nice post. I just stumbled upon your weblog and wanted to say that I’ve truly enjoyed browsing your blog posts. In any case I will be subscribing to your rss feed and I hope you write again very soon!

  14. Hoo.. Itu Baduy luar ternyata, yg masih bis jepret di sana..

    Meski udah cukup terkontaminasi dengan budaya luar, tapi masih salut pada mereka yang masih menjaga tradisinya, meski udah terbuka untuk wisatawan..

    Jadi penasaran dengan Baduy dalam..
    Apa benar” tertutup untuk orang luar ya..?

    1. Kita malah nginap di Baduy dalam, mereka wellcome kok ke pendatang karena mereka sudah sadar bahwa mereka sudah menjadi tujuan destinasi wisata.

      Cuma gak boleh ngambil fhoto saja, sebenarnya klo wisatawan nakal juga bisa ngambil fhoto toh boleh bawa hp juga. Cuma sebagai wisatawan kita juga harus ikut andil untuk melestarikan kebudayaan mereka, πŸ™‚

    1. Gak ada sinyal juga kak, hahaha

      Yang gak boleh hanya di Baduy dalam karena mereka menolak yang namanya tekhnologi terterntu, karena memang sudah adat dan sesuia dengan kepercayaan mereka .

  15. Asik ya mas bisa menjelajah ke suku Baduy.
    Bakl punya kenangan dan pengalaman tersendiri tentunya.
    Smoga saya juga punya kesampatan yang sama nantinya πŸ˜€

  16. Salam kenal ya kak. Seru banget sih travelingnya. Btw, aku baru tahu apa itu kemana-lagi.com…Makasih sharingnya kakak.

  17. Setelah membaca beberapa komen, baru tau kalau Baduy ada 2 macam. Nah, selama kita nggak pakai gadget di Baduy dalam, terus gadget kita tarok mana, bang? Tetep boleh dibawa–apa kudu dititipin? Oiya, untuk masuk kesini apa ada tiketnya? Terus pas menginap di rumah warga, kudu bayar juga kah? Berapa kalau boleh tau?

    *Ini komen isinya pertanyaan semua—hahaha*

    1. Gedget di taro di tas saja mas.
      Usahain jgn dibawa untuk menghormati adat mereka.
      Ada tiketnya dan juga harus bayar, dan klo ke baduy dalam harus booking rumah warga dulu sekalian tour guide ya.

      Saya saranin lebih menggunakan open trip biar lebih murah. Kemaren menggunakan OT, jd totalnya 250 K sudah termasuk sewa rumah makanan 2 kali dan transportasi JKT mpe baduy

  18. Kayanya kang Idris ini seneng jalan2 yaa.. ampe nengokin suku baduy, kalau aku udah takut dluan hehehee.. Kang tapi dengan banyak mengenal suku2 semakin kita bersyukur dan tahu yaa keberadaan suku lain

  19. Sebagai orang yang pernah tinggal di Sukabumi lumayan lama dan baru sampai Sirnaresmi, beneran jadi pengen ke Baduy.

    Cerita sama infonya keren om.. lengkap banget.

  20. Spot jembatan akar sangat unik. Tapi penasaran juga seberapa kuat masalahnya saya blm pernah pergi kesana. Ya kapan-kapan kalau sempat saya coba kesana hehehe

  21. Alasannya ga boleh pakai gadget apa ya disana? Kalaupun nyuri2 pakai apa ada sinyalnya?
    Ngetrip sambil belajar budaya negeri sendiri ini. Unik dan asik 😊

    1. Klo pake gedget kan nanti di fhotoin tuch, dan fhotonya nyebar.. Mungkin takut di culik kali yaa, hahaha..

      Aku saja pengen nyulik satu anaknya, hahaha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *