Campur Aduk! Begini Rasanya Ngetrip ke Curug Kiara di Bogor

965 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Curug Kiara – Malam minggu memang malam yang asyik buat pacaran (jaman zahiliyah) yang membuat selalu pulang pagi ke kosan, jadi biasanya hari minggu hanya bermalas-malasan di kamar tidur ditemani dengan perlengkapan tidur yang bisa membuat diri ini bangun jam 2 siang.

Setelah kuputuskan tidak pacaran lagi sejak satu tahun yang lalu, hari minggu ku menjadi selalu ceria. Minggu ini, saya ngetrip bersama dengan orang-orang baru lagi, sekitar 25 orang. Memang saya tak mengenal baik semuanya, tapi setiap ngetrip tetap saja mempunyai pengalaman yang tak terlupakan sendiri meski kadang kejadian tak terduga sering kali terjadi.

Bukan Hanya Cinta yang Buta, Pagi Buta Sambil Menyambut Sang Mentari Terbit di Jalanan Ibukota Juga Sungguh Syahdu.

Trip kali ini memaksa saya tak boleh bermalas-malasan, bagaiman tidak? Jam 8 saya harus sampai ke Bogor. Dengan tekat yang sudah bulat, tepat jam 5.15 pagi. Saya berangkat dari kosan menuju stasiun Manggarai dengan motor kesayangan yang biasanya tugasnya hanya antar jemput loundryan.

Dari kosana saya ke Manggarai menghabiskan waktu kurang lebih 30 menit karena jalanan yang masih sengang, karena biasanya jalanan jakarta macet di pagi hari itu jam 7 sampai jam 9 yang digunakan oleh para pencari nafkah menuju pekerjaan masing-masing.

Perjalanan Menuju Curug Kiara
Menyambut Sang Mentari Menggantikan Lampu Ibukota

Selama perjalanan, hanya beberapa kenderaan yang sering lewat silih berganti. Tepat di flyover cempaka putih, saya berhenti sejenak untuk menikmati hembusan segar angin pagi dan memotret sang mentari yang mulai menampakkan dirinya menggantikan lampu-lampu jalanan di Ibukota. Kemudian saya melanjutkan perjalanan sampai stasung dan langsung mengambil tujuan Bogor.

Dari Stasiun Bogor ke Curug Kiara! Perjalanan Penuh Drama dan Perjuangan Selalu Menghampiri.

Setelah sarapan pagi dan basa-basi mengobrol untuk saling mengenal, perjalanan pun di mulai dengan angkot yang sudah disewa. Drama pertama pun dimulai, di macetnya deramaga Bogor tiba-tiba as angkot pun rusak dan perjalanan harus di stop dan mencari angkot lainnya.

Maklum saja, peserta kali ini kebanyakan makmur semua alias kelebihan berat badan. Setelah angkot ada, perjalanan dilanjutkan kembali dengan terik matahari yang menantang. Lagi-lagi drama pun di mulai, kali ini drama nyasar alias salah jalan sampai 2 kali. Semacam hobby yang tidak tersalurkan harusnya memilih jalan yang salah.

Curug Kiara
Naik Turun Angkot, tetap semangat

Setelah menemui jalan yang benar, drama dilanjutkan kembali. Kali ini dramanya lebih menantang lagi, angkot yang kami sewa tak sanggup menanjak jalanan karena memang tanjakannya yang sungguh luar biasa, mau tidak mau kami harus berjalan kaki dibawah teriknya matahari kurang lebih 15 menit.

Drama jalan ini kaki sampai 3 kali terjadi. Akhirnya kalori pun terbakar sia-sia. Nah, setelah 2 jam 30 menit akhirnya sampailah ke Parkiran. Tapi tiba-tiba saja hujan deras menghantam bogor, lagi-lagi drama pun dimulai. Mulai dari mulai putus harapan gak bakalan jadi ke curug, sampai menetukan jadwal kembali.

Dibawah naungan hujan yang dahsyat, suara adzan pun berkumandang menandakan telah tiba saatnya bagi hamba untuk menunaikan kewajibannya. Dan tak lama berseling, abang tukang bakso pun datang menajajakan baksonya, sebagai yang doyan makan. Tak pernah kusia-siakan makanan dengan suasana hujan yang deras.

Curug Kiara
Jadi ingat pas hujan-hujanan bareng dia kan 🙁

Hujan Pun Berhenti, Semangat Pun Mulai Mengahmpiri. Tracking Pun di Mulai, Kalori Pun Ikut Terbakar Lagi.

Dari parkiran, kami harus berjalan kaki ke Curug Kiara. Dimulai dari menanjak sedikit sampai menjelajahi jalanan yang datar, kemudian jalanan menanjak lagi. Perjalanan tarcking ini membutuhkan waktu kurang lebih 50 menit dengan berjalan santai.

Tapi tenang saja, selama perjalanan kamu tidak akan bosan. Karena pemandangan yang disuguhkan sungguh luar biasa. Mulai dari pemandangan alam khas desa berupa perkebunan holtikultura, persawahan warga dam tentunya gunung salak dan halimun yang menjulang tinggi.

Perjalanan Curug Kiara
Perjalanan Curug Kiara

Selain itu, kamu juga selfie-selfie dengan travelmate kamu. Biar kenangan perjalanan bisa diabadikan dan menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Dengan Kemiringan 80 Derajat, Anak Tangga Papan Harus di Langkahi Untuk Menikmati Curug Kiara.

Setelah akan sampai, ternyata untuk menuju curug kiara ini. Kami harus menuruni tangga dengan kemiringan 80 derajat. Dan parahnya lagi, anak tangga ini hanya bisa dilewati 2 sampai 3 orang sekaligus bahkan demi keamanan hanya bisa dilewati satu per satu.

Jadi kebayangkan, harus ngantri dulu untuk menikmati curug kiara ini. Nah, setelah turun tangga. Deburan air terjun akan menyambut mu dengan bahagia. Eits, bagi kamu yang tak bisa renang tidak disarankan untuk ke tengah-tengah karena selain arus yang lumayan deras, curug kiara ini juga sungguh dalam.

Saya yakin curug kiara ini pasti memilki kedalama lebih dari 2 meter, karena kaki saya tak pernah bisa menyentuh permukaan dan hanya berenang. Dan bagi kamu yang ingin menikmati jatuhan air terjun ini juga tidak disarankan, karena kamu harus berenang ke bebatuan kemudian dilanjutkan menaiki bebatuan dan berjalan lagi. Dari kamu juga hanya 3 orang yang ke bebatuan yaitu saya, andri dan akang satu lagi (lupa namanya).

Mandi Bersama di Curug Kiara
Mandi Bersama di Curug Kiara

Hanya Dengan Rp.170.000,- Kamu Sudah Mempunyai Kenangan yang Tak Terlupakan dan Penuh Drama.

  1. Biaya trip Rp. 80.000,- per orang untuk sewa angkot dan tiket masuk
  2. Sarapan, Makan dan Jajanan Rp. 72.000, -. Ini tergantung pribadi masing-masing.
  3. Tiket KRL PP Rp. 10.000,-
  4. Parkir selama 9 jam Rp. 8.000,- kok murah bangat ya
  5. Nyampe kosan jam 10 malam, sebelum tidur makan dulu.

Lokasi Curug Kiara.

Secara administratif letak curug kiara ini berada di kampung raina Desa Ciasihan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor

21 thoughts on “Campur Aduk! Begini Rasanya Ngetrip ke Curug Kiara di Bogor

  1. Asyiknya bisa mandi di curug, dilanjutkan dengan menyantap bakso atau makanan hangat lainnya. Serasa tinggal di dekat pegunungan…hehehe

  2. walau energi terbakar sia- sia, kaki jadi capek dan salah jalan , kalau sudah sampai dan lihat lihat pemandangan Curug Kiara sepertinya semua keluhan akan hilang entah kemana. Betul ngk Mas… 🙂

  3. Oh di Bogor ya. Dalam juga ya kurang lebih sampai 2 meter. Air terjunnya juga cukup deras. Nice ya, traveling bareng teman2. 🙂

  4. Kota Bogor identik dengan hujan mulu .. , jadi kita kalo travelling kesana kudu baea bekal payung atau jas hujan 😁

    Keren curug Kiara .., deres alirannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *