Sekelumit Kenangan Tentang Senja, Hujan dan Kamu di Penghujung Desember

1,323 kali dilihat, 18 kali dilihat hari ini

Hujan datang begitu riang. Dingin bulan Desember kembali membalur tubuh. Aku masih ingat setahun yang lalu, lewat pesan singkat di handphone, engkau bilang sedang menggigil dalam hujan. Sungguh betapa khawatirnya aku saat itu, lantaran tak bisa di sampingmu. Tak bisa memastikan kondisimu seperti apa. Padahal sebelumnya, aku selalu berpesan agar jangan melarung dalam hujan.

Malamnya, saat aku meneleponmu, kekhawatiranku semakin menguat karena kudengar suaramu berubah. Kau mulai terserang flu. Tapi seperti biasa, kau tertawa-tawa mendengar kekhawatiranku. Mungkin kau merasa ini sesuatu yang lucu. Sebuah kekhawatiran yang menurutmu berlebihan. Tapi sungguh, bagiku tidak.

Kau selalu menganggap biasa hal-hal kecil. Sementara aku tak pernah menganggap segala sesuatu itu perkara kecil. Bagiku, setiap sesuatu penuh arti. Syarat makna. Kita memang berbeda; tapi itulah yang membuat kita semakin dekat. Saling melengkapi satu sama lain. dan kita bahagia karenanya.

Tidak terasa, sekarang sudah bulan Desember lagi, bulan yang bergelimang hujan. sejak musim penghujan tiba, aku juga semakin jarang menikmati senja. Nyaris setiap sore gulungan awan hitam senantiasa menggelayut menyambut malam. Dan tak ada senja saat-saat seperti itu. Padahal, engkau tahu kan bahwa aku seseorang yang senantiasa menyukai senja. Dan sekarang, engkau juga sama,  jatuh cinta pada senja.

Aku yang dirabunkan oleh fatamorgana, indah saat jauh. Lenyap saat mendekat, dipesisir hamparan pantai, aku termenung bersama sepi. #baladasiday

Tentu kau masih ingat sebuah senja yang mempertemukan kita. Kau menunjuk langit yang merah saga. Matamu berbinar ceria. Sesekali kau menatap ke arahku. Aku hanya tersenyum melihatmu, lebih tepatnya melihat ekspresi keceriaan di wajahmu. Ada bulir-bulir bahagia disana, seperti tebaran awan putih yang bersepuh warna merah saat itu.

Kemudian aku bercerita tentang senja-senja yang telah membuatku jatuh cinta. Kau mendengarkan dengan senyum yang senantiasa tersungging. Matamu sesekali mengerjab. Tapi tak pernah lepas dari mataku. Dan itulah untuk pertama kalinya aku salah tingkah. Gugup, dan sejenak tergeragap. Aku ingin bersembunyi dari matamu, tapi kau tahu kan itu tidak mungkin?

Rindu mungkin seperti hujan, yang membuat kita berhenti sejenak dan menunggu reda sebelum berkelana kembali atau membuat kita menembus butiran lembut untuk membasahi hati yang kian rapuh.

May,,, menjelang kedatanganmu, aku ingin bercerita tentang sesuatu. Bukan tentang rentang hari yang kita sulam bersama. Bukan tentang malam-malam sepi diantara derai hujan yang menandak genting rumah. Juga bukan tentang mimpi indah di setiap barisan harap dan lukisan kisah kita.

Aku hanya ingin bercerita tentang rindu,bongkahan rasa yang berpijar disepuh cinta. Kau tahu dimana tempatnya? Hatimu; semerbak wangi beraroma surga.

Artikel by Rumah Rindu dan sudah di edit oleh penulis.

8 thoughts on “Sekelumit Kenangan Tentang Senja, Hujan dan Kamu di Penghujung Desember

  1. kemarin aku lebih tersentak bang istri, pelatihan di kota lain dan dia jatuh karena kaget mendengar petir yang begitu besar sehingga ia jatuh dari motor, btw semoga kerinduannya dan segala keresahannya akan segera hilang

  2. Di penghujung desember kenagan yang sulit aku lupakan
    kau melangkah tanpa ada rasa ragu
    dari belakang aku hanya terdiam tak mampu mulut ini mencegahnya
    keinganmu dan impianmu, gapailah
    aku mungkin hanya akan merindumu dari kejauhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *