ayah, ibu

Ayah, Ibu! Bukannya Anakmu Tak Rindu, Hanya Saja Aku Sedang Berjuang Untuk Membahagiakanmu

1,404 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Ayah, Ibu! – Rindu dan kangen, kata ini selalu bisa membuatku merenung betapa indahnya masa kecil yang tiada beban, tiada dosa dan tidak berpura-pura bahagia. Kala bahagiaku, hanya di ukur dengan setumpuk coklat, kala bahagiaku hanya di ukur dengan bermain hujan-hujanan bersama teman-teman atau kala bahagiaku hanya di ukur bermain kelereng.

Kadang aku berpikir, kenapa aku harus dewasa? Kenapa ada masa merantau bagi hidupku? dan masih tersimpan ribuan pertanyaan yang tak bisa kujawab sendiri. Ibu, bukan kah kamu pernah mengatakan jika jadi dewasa itu sangat indah dan bahagia? Begitupun Ayah, bukannya Ayah bilang menjadi anak rantau itu sangat istimewa?. Tapi kenyataannya, dibalik kata bahagia dan sangat istimewa tersirat perjuangan yang tiada tara dan bahkan berlinang air mata.

1. Ayah, Ibu! Tak Ada Niat Untuk Membantah atau Menyakiti. Maaf, Jika Anakmu Kadang Tak Patuh dan Adu Argumen Via Telepon

Jarak dan waktu memang menjadi pemisah bagi aku dan ayah serta ibu. Komunikasi hanya melalui telepon dan kadang ditelpon pun masih selisih pendapat. Maafkan aku yang kadang tidak bisa mengalah dan masih ego, tidak ada niat hati untuk tidak mengikuti semua kemauan mu, hanya saja kadang waktu yang tidak tepat.

Sejujurnya dalam lubuk hati yang paling dalam, aku ingin mewujudkan semua impian ayah dan ibu. Tapi hanya saja aku belum bisa melakukan semuanya. Aku akan berusaha dengan sekuat tenaga serta doa yang kupanjatkan kepada Tuhan, semoga semua tercapai.

2. Ibu, Maaf kan Anakmu Ini, Belum Bisa Membawa Menantu yang Baik dan Sesuai Dengan Harapan Ibu

Malam semakin larut, pembicaraan Aku dan Ibu kadang menyerempet ke jenjang pernikahan. Bukannya Aku tak ingin menikah, hanya saja aku masih trauma dengan masalah cinta. Aku juga ingin mendapatkan pendamping hidup yang seperi Ibu, penuh kasih sayang, tak pernah marah dan selalu sabar menghadapai kami anak-anak mu.

Kelak, jika aku membawa calon pendamping hidupku yang akan setia menemaniku sampai akhir hidupku. Aku mohon sayangi dia seperti menyayangiku, dan aku juga selalu berdoa supaya “Calon Bidadariku” sama seperti Ibu atau setidaknya mempunyai seperti sifat yang dimiliki Ibu.

3. Asal Kamu Tahu Saja Ayah, Ibu. Hatiku Pilu dan Nyeri, Kala Aku Menolak Permintaan Ibu & Ayah

Ayah dan Ibu, Maafkan anak mu yang tak tahu diri ini. yang sudah dibesarkan dengan pendidikan yang sangat baik tetapi kadang masih suka membantah dan menolak permintaan Ayah dan Ibu. Bukan maksud hati untuk menyakiti, hanya saja keras hidup mengajariku menentukan prioritas.

4. Ayah, Lebaran Tahun Depan Anakmu Akan Membawa Semua Keinginanmu dan Tak Salah Pilih Lagi

Ahh, Maafkan Anakmu ini yang sudah tak tahu ukuran baju Ayah. Aku kira tubuh Ayah masih sama dengan setahun sebelumnya atau malah tambah kurus karena ayah sering cerita kondisi kesehatan Ayah yang menurun. Atau itu hanya akal-akalan ayah yang sangat rindu dengan anak mu ini.

Aku berjanji untuk lebaran tahun depan, aku akan membawakan baju yang sesuai dengan ukuran tubuh ayah. Oh ya Ayah, mengenai baju Koko kita yang harus sama, Insyaallah lebaran tahun depan juga akan terlaksana dan maaf jika lebaran tahun kemaren tidak bisa memenuhi keinginan Ayah.

5. Jauh Dari Lubuk Hatiku yang Paling Dalam. Sejujurnya, Aku Sangat Rindu Ayah dan Ibu

Sejujurnya dari lubuk hati yang paling dalam, aku sangat merindukan kalian. Aku selalu berharap bisa dekat kalian selalu, tapi apa lah mau dikata. Untuk saat ini keadaan belum memungkinkan. Hanya satu pintaku disetipa sujudku, semoga ayah dan ibu sehat selalu dan bahagia.

Tak banyak pintaku, bahagialah menghadapi hidup kalian di masa senja kalian, semoga Allah selalu melindungi Ayah dan Ibu.

13 Replies to “Ayah, Ibu! Bukannya Anakmu Tak Rindu, Hanya Saja Aku Sedang Berjuang Untuk Membahagiakanmu”

  1. Baca ini buat saya jad kangen ingin pulang kampung mas isris
    terutama sama ibuku
    aku bener2 deket sama ibu
    belum bisa memberikan yang terbaik untuk beliau

      1. Boleh di reapeat gak mas bro hehe
        saya edit dengan versi saya sendiri.. sebenernya judulnya si yg pgen banget di pake
        nanti saya kasih link

          1. Sebentar lagi lah, hasbis puasa mendekati lebaran bisa pulang. Bener kata mas Adi, jadi kangen akan kampung halaman. Sebetah apapun di perantauan, tetep rumah tempat kembali…he

  2. Jadi ingat ayah yang sudah tiada 😭 merasa bersalah juga karena sampai akhir hayat belum bisa mewujudkan keinginan terbesarnya 😭😭

  3. Jadi sedih bacanya …
    Teringat alm.papaku.
    Dulu waktu masih belum punya pikiran stabil,sering adu argument kalo ditelp dari kampung halaman.
    Sekarang papaku udah ngga ada, kangen moment2 itu.

    1. Semoga bahagia selalu di alam sana alm bapaknya mas,,
      Memang begitu lah mas, kadang pola pikirnya beda sama ayah, jadi sering adu argumen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IBX5A924A2977604