Surat Cinta ke Lima Untuk Calon Istriku yang Selalu Kusebut di Dalam Sujudku

Menemui Calon istriku
Di pesisir rindu

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,,,

Semai maaf berbalut rindu dari jauh, hanya untukmu, calon Istriku. Maafkan aku, karena sampai saat ini aku masih belum bisa menemukanmu, belum bisa melunasi harapanmu, juga belum bisa menjadi imam bagimu. Padahal, aku sudah berusaha mencarimu calon istriku, tapi aku selalu gagal.

Barangkali, semua itu karena begitu sulitnya perjalanan untuk menemukanmu. Cobaan dan ujian yang menghantamku berkali-kali, nyaris membuatku terpental dari jembatan pencarian ini. Dan aku nyaris menyerah. Untung saja, setiap kali aku terpelanting, aku masih berhasil berpegangan pada tali keyakinan tentang jodoh dan nasib yang dibuat oleh-Nya.


“Allah tidak akan pernah salah membuat garis takdir pada setiap manusia”

Begitu batinku, setiap kali aku terhempas pada gelimang resah. Maka, meski sampai saat ini aku belum berhasil menemukanmu, aku selalu percaya bahwa sekenario Allah selalu lebih indah dari pada keindahan luka yang menempaku selama ini.

Calon Istriku, Aku Ini Lelaki yang Mudah Meneteskan Air Mata Perihal Tertentu

Pada saat-saat tertentu, dan pada peristiwa-peristiwa tertentu. Seperti beberapa hari yang lalu. Aku sempat terisak diam-diam, dari balik pintu. Saat melihat ibuku yang terbaring sakit menjelang lebaran. Aku tidak tega melihat orang yang paling berarti dalam hidupku itu hanya berbaring lemah. Sementara, aku tidak bisa berbuat banyak, untuk membantunya.

Lelaki yang merindukan dirimu via dok pribadi

Hanya berusaha merawatnya semampuku. Aku juga berusaha sebisanya, menggantikan tugas-tugas beliau di dapur. Karena aku sangat tidak ingin beliau bekerja dalam kondisi yang tidak sehat. Tapi ternyata, aku tak terlalu pintar untuk urusan dapur, meski aku juga sudah terbiasa masak sendiri sewaktu masih di pondok pesantren.

Lalu aku juga sempat mengadu diam-diam, calon istriku,,, dalam terpekur yang nyata di depan kompor, aku berbisik kepada-Nya dalam hati,

“Ya Allah, sampai kapan aku harus menunggu calon istri yang akan Engkau kirimkan untuk mendampingiku?

Aku tak kuat mengerjakan perkerjaan ini sendiri Rob,,, sementara Engkau tahu, bahwa tidak mungkin juga aku membiarkan ibu terus menerus menyiapkan makan untukku, apalagi ibu dalam kondisi sakit. Rob,,, aku takut, suatu saat, semangatku untuk mencari calon istri akan kalah dengan rasa putus asa. Maka, kalau boleh meminta, percepatlah pertemuanku dengan orang yang Engkau pilih untuk mendampingi hidupku. Amin”

Sungguh calon istriku, saat-saat seperti itu, sebenarnya aku menginginkan engkau sudah berada di sini, di sampingku. Menemaniku merawat ibu, sekaligus menggantikan tugas-tugas beliau untuk menyiapkan makan sahur dan buka puasa untukku. Kukatakan demikian, bukan berarti aku ingin menyiksamu dengan pekerjaan dapur, bukan.

Tapi aku ingin mengajakmu dalam kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya. Saling mengisi, saling berbagi, saling menguatkan, saling memahami, saling mengulurkan tangan, dan saling membantu. Saling mengasihi, saling menyayangi, saling mencintai, dan selalu saling merindui. Karena kita adalah satu. Karena kita tak akan pernah mampu untuk melalui hidup tanpa bersama-sama.

Calon Istriku, Dengarkanlah! Lalu pelan-pelan, Kembali Aku Terpuruk Pada Lelehan Air Bening yang Merebak dari Kedua Mata.

Calon istriku, kemirisanku bertambah dalam, saat lebaran bertandang. Terutama saat aku bersimpuh di hadapan ibu, sambil meminta maaf pada beliau atas segala salah dan khilaf. Lalu pelan-pelan, kembali aku terpuruk pada lelehan air bening yang merebak dari kedua mata. Betapa selama ini, aku masih belum bisa menjadi anak yang baik bagi beliau. Aku masih sering menyakiti perasaan beliau.

Dan aku masih seringkali merepotkan beliau dalam setiap kehidupanku. Dan terakhir, karena aku juga belum mampu membawamu sungkem pada ibu. Padahal aku tahu, bahwa ibu sangat berharap, ada orang lain yang menyentuh tangan beliau di hari lebaran, lalu menciumnya sepenuh hati. Dan orang itu adalah kamu, calon istriku…

Istri pendatang rezeki via lukihermanto.com

Tengah hari, seusai sholat dhuhur, saat aku berniat untuk merebahkan diri, calon istriku,,, tetapi, beberapa sahabat dekat, datang. Kami bermaaf-maafan. Kemudian terlibat obrolan yang hangat. Beberapa kue lebaran sudah tersedia di atas meja. Tetapi sungguh calon istriku, aku kembali didera perih saat harus beranjak ke dapur, dan membuatkan minuman untuk sahabat-sahabatku itu.

Bukan karena aku tidak ikhlas menyeduh kopi buat mereka, bukan. Tetapi karena aku kembali terpasung pada khayal tentangmu yang belum kutemukan.


Seandainya aku sudah menemukanmu, calon istriku,,, niscaya aku tidak akan serepot ini untuk menyuguhkan minuman pada sahabat-sahabatku (yang kebetulan silaturrahim ditemani istri-istrinya). Aku pasti bisa dengan tenang menemani mereka ngobrol, karena engkau pasti membantuku dengan senang hati, untuk membuatkan kopi.

Lalu aku dengan bangga akan berucap “inilah kopi buatan istriku tercinta… istri yang selalu membuatku tegar menghadapi segala cobaan hidup. Yang selalu mampu membuatku tersenyum saat berada di dekatnya”. Lalu aku sambil melirikmu yang pasti tersipu malu. Ah,,, tapi itu sekedar hayalku, calon istriku, karena sekali lagi,, aku belum menemukanmu…

Hanya Satu Harapanku, Ramadahan Tahun Depan Bisa Menunaikan Ibadah Puasa Bersammu.

Calon istriku yang baik, tentu saja, aku berharap, Ramadhan tahu depan, aku sudah bisa menunaikan ibadah puasa bersamamu. Kita akan berangkat ke masjid bersama-sama untuk melaksanakan sholat tarawih. Kita akan bangun dini hari untuk sholat malam, kemudian menikmati makan sahur bersama. Kita juga akan berbuka puasa bersama di rumah yang sederhana, yang beratap rumbai cinta dan rindu yang tak pernah pudar…

Semoga saja Allah mengabulkan doa ini…

Calon istriku,,, jika kau sempat, balaslah, surat ini… sebab aku akan selalu menunggu balasanmu, di kampung halamanku. Tetapi, jika kau terlalu sibuk untuk sekedar menulis surat balasan kepadaku, tak apa-apa, tak usah kau balas. Yang penting, jangan pernah berhenti untuk berdoa, agar Allah segera mempertemukan kita….

Yang terakhir,,, siapapun engkau, calon istriku,,, dimanapun engkau kini,,, sebagai calon suamimu, aku mengucapkan selamat hari raya idul fitri… minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin… semoga kita termasuk golongan orang-orang yang kembali ke fitrah, dan bertemu kembali dengan Ramadhan yang akan datang. Amin…

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh….


Yang selalu berselimut rindu,
Calon suamimu,,



Avan Fathurrahman

Artikel ini merupakan artikel dari Rumah Rindu oleh: Avan Fathurrahman dan admin hanya mengedit judul dan mengedit sebagian kecil isi suratnya.

9 thoughts on “Surat Cinta ke Lima Untuk Calon Istriku yang Selalu Kusebut di Dalam Sujudku

  1. ini nih yang bikin klepek-klepek kalau dia baca tulisan ini. yakin bisa melelh tuh air mata.

    tapi kembali lagi pada penyadaran diri mas, bahwa rindu itu sengaja dibuatkan untuk kita rasakan agar ada cerita dan senyum tulus ketika bertemu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *