Ay, Bersabarlah! Karena Aku Bukan Bang Toyib yang Jarang Pulang

Ada bersitan cemas yang perlahan menebal di alis matamu Ay. Saat aku pamit berangkat ke tanah seberang untuk menimba ilmu. Sejak subuh ini, sampai beberapa hari ke depan kita memang tidak bisa bersama Ay. Aku harus berangkat untuk menunaikan tugas suci. tapi bukan berarti kita tak bisa bercakap seperti biasa.

Selalu ada jalan untuk bertukar kabar bukan? Jarak bukanlah aral yang patut kita cemaskan Ay… bahkan sesekali kita memang harus berjauhan untuk mengukur seberapa dalam kerinduan yang mengakar di hati kita.

Ketika engkau mencium takdzim punggung tanganku… sesaat sebelum kaki kananku melangkah menaiki tangga Bus. Ada linang yang merebak di sepasang matamu. Sementara aku harus tetap tersenyum sembari berharap bisa mengalirkan kekuatan ke hatimu.

Bukan aku tak sedih Ay,,, Bukan. Tapi karena memang aku harus tersenyum agar kau tak semakin luruh dalam lara. Semestinya, aku bisa menghapus rasa cemasmu dengan berbagai kisah tentang senja yang akan aku bawa nanti; untukmu. Atau tentang gemerlap lampu di pojok taman setelah senja menghilang. Atau tentang matahari pagi yang selalu datang penuh cinta.

“Hati-hati ya Mas,,, Jaga diri baik-baik…” ucapmu menyejukkanku. Duh, Ay… jika saja ini bukan karena kewajibanku sebagai seorang pendidik agar lebih profesional, mungkin aku memilih mundur dari percaturan Puslatdiksarmil di Sidoarjo itu.

“Ada rindu yang rasanya kuat sekali. Saat hujan datang dan sedang sendiri, perihnya pun semakin menjadi…”

Aku lebih memilih menemanimu memasak tahu-tempe dan oseng-oseng rasa balado. Atau sibuk menggodamu saat sedang sibuk menyetrika baju-bajuku. Kau pasti tersenyum seperti biasa Ay,,, seperti hari-hari sederhana yang kita lalui bersama. Tetapi sekali lagi aku memang harus pergi untuk sementar. Sebab ini untuk masa depan anak bangsa…

Untuk itulah, aku selalu butuh aliran doa darimu Ay,,, itu akan menjadi salah satu sumber kekuatan bagiku. Semoga kegiatanku lancar dan lulus dengan gemilang ya,,, Aku ingin segera pulang. Karena aku bukan Bang Toyib

Sumber : Rumah Rindu . Jika kamu mempunyai artikel yang menarik kamu bisa hubungi saya untuk di muat di blog ini.

16 thoughts on “Ay, Bersabarlah! Karena Aku Bukan Bang Toyib yang Jarang Pulang

  1. sangat menyentuh sekali cerpen nya Mas. Kadang dilema juga ketika kita dihadapkan pada 2 pilihan yg sulit dan harus dilaksanakan karena kewajiban. Tapi jika sesuatu tsb dikerjakan sepenuh hati walau harus meninggalkan pujaan hati, Insyaallah pasti dipertemukan kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *