Kasih! Dengarkanlah Keluh Kesahku Saat Tertikam Sepi dan Terpuruk

Pada senja yang seringkali murung. Aku bertutur tentang sepotong hati yang berdiam dalam dada. Hati yang sampai saat ini belum aku ketahui pasti seperti apa bentuknya, namun aku selalu merasakannya. Aku bahkan tidak tahu harus dengan bilangan apa menyebutnya?

Entah sepotong, sebuah, sekeping, secerca, sebesi atau se-apa? yang aku tahu hanyalah, hati yang ada dalam dada ini begitu peka terhadap banyak hal. Begitu fasih membisikkan perasaan; Cemas, kecewa, sedih, bahagia, rindu, cinta, takut, benci, iba, sakit, sepi, putus asa, dan sebagainya.

Jiwaku menghening,tak ada tangan yang memapah,tak ada pundak tuk kurangkul,semenjak sendiri jd sunyi;tentangku menjadi sepi

Seperti saat ini misalnya. kembali aku ditikam sepi. Sebentuk perasaan yang menyedihkan. Sepi yang tak terjawab dengan apapun. Sepi yang begitu lekat dengan rasa sakit. Tapi sebagai sebuah perasaan, mau tidak mau, aku harus menikmatinya sendiri. Dalam sunyi, bahkan dalam dingin.

Sepi ini bermula saat kau mulai tidak punya waktu untukku. Aku tak bisa mendengar lagi suara tenangmu menjelang lelap. Aku tak menemukan sapamu lagi di bening fajar menjelang subuh. Aku tak menemukan surat-surat kecilmu lagi di layar telepon genggamku. Kau menghilang. Aku hanya menemukan sepi di saat-saat seperti itu.

Tinjuku biru lebam, berkali-kali dinding rindu kuhantam. Darahku berdesir, berkejaran, asmara ini tak tertahankan

β€œEngkau dimana saat aku ditikam sepi?” gumamku dalam hati. Tak mampu terucap. Berkali-kali lesatan tanya senada menyeruak dari sela-sela kesadaranku. Berkali-kali juga aku menguburnya dalam dada. Menimbunnya dengan helaan nafas yang gerimis. basah.

Barangkali, kau terlalu sibuk dengan aktifitasmu yang kian menjubel. Berbagai aktifitas yang telah merebutmu dari duniaku. Atau, kau benar-benar butuh jarak dariku untuk bahagia. Kau butuh jarak untuk tersenyum. Kau butuh jarak untuk tertawa. Kau butuh jarak untuk ceria. Kau butuh jarak untuk merengkuh duniamu.

Bila rindu bagimu hanya sekadar sebaris ucap,dan kita telah menjadi aku dan kamu,biarlah kisah ini kupenggal dlm jarak spasi

Maka, aku memilih diam yang entah…

Membiarkanmu mengepakkan sepasang sayap, meski diam-diam aku didera cemas. Aku takut kau terbawa deru angin, lalu tersesat di belantara sunyi yang sakit. Aku selalu khawatir akan hal itu. Tetapi masih berartikah kekhawatiranku bagi seutas mimpi indah yang engkau tuju?

Aku tak menemukan jawaban apa-apa selain sepi.

Artikel by : Rumah Rindu

17 thoughts on “Kasih! Dengarkanlah Keluh Kesahku Saat Tertikam Sepi dan Terpuruk

  1. rasa kangen yang super menyiksanya kan?
    makanya sejak awal tak bilangin kalau punya pacar itu jangan tebang satu, tapi kudu lebih dari empat, supaya nggak galau abadi kaya post diatas itu tuh..

    sukurin ah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *