Nyonya, Maafkan Aku yang Tak Bisa Romantis dan Berkata Manis

Sudah sering aku mendengarkan lagu-lagu bernuansa merah jambu. Membaca beberapa antologi puisi cinta yang syarat dengan kalimat-kalimat indah. Juga seringkali menyempatkan diri menonton film-film yang mengusung tema cinta dan kerinduan. Dan aku selalu terjerembab dalam kekaguman yang sama. Jatuh cinta pada kalimat-kalimat indah yang kutemui.

Bukan hanya itu. Kejutan-kejutan kecil yang terasa sangat istimewa dalam beberapa adegan film membuatku semakin merasuk pada dunia khayal yang tinggi. Menjadi seorang pria sejati yang pintar menyulam kalimat-kalimat indah, dan selalu romantis pada perempuan yang disayanginya. Rasanya, lelaki seperti itu akan senantiasa bisa membuat kekasihnya tersenyum bahagia. Sayang sekali, aku tak bisa. Aku tak pernah bisa menjadi pemeran romantis dalam pentas hidup bernama cinta.

Harus juga kuakui memang, bahwa aku selalu gagal untuk menjadi lelaki romantis; lelaki yang menjadi idaman banyak wanita. Aku tak pandai memuji, meski aku tahu perempuan suka dipuji. Aku tak pandai merayu, meski banyak perempuan akan merasa senang jika dirayu. Aku juga sangat tak bisa menggombal, meski aku tahu, sebagian perempuan lebih suka digombalin.

Aku cuma seorang lelaki biasa yang hanya bisa bicara apa adanya. Tak lebih. Aku juga tidak pandai mengibaratkan apalagi membandingkan seorang perempuan dengan hal-hal lain. Karena bagiku, tak ada hal lain yang mampu menyamai makhluk Tuhan yang bernama perempuan itu. Apalagi perempuan sholehah. “sebaik-baik perhiasan adalah perempuan (istri) sholehah”.

Keindahan apa yang bisa kusamakan dengan kemuliaan seorang perempuan (istri) sholehah di hadapan Allah? Tidak ada. Allah Azza wajalla mengistimewakan perempuan dengan mencantumkannya dalam satu surah khusus di dalam Al-Quran yaitu “An-nisa’”. Rasulullah pun, demi penghormatan dan pemuliaannya pada perempuan, menyuruh ummatnya untuk menghormati seorang perempuan (ibu) tiga kali lebih banyak dibandingkan laki-laki (Ayah).

Lalu bisakah aku menyamakan perempuan itu seperti matahari, rembulan, permata, emas, bunga, samudera atau lainya dalam bualan kata-kata yang berlebihan? Ah,,, tidak. Perempuan adalah makhluk yang teramat istimewa untuk dibanding-bandingkan. Perempuan adalah makhluk yang anggun. Keberadaannya sebagai penyeimbang dalam kehidupan. Jika meminjam bahasanya Rumi, Perempuan adalah ujung alis Tuhan yang tergerai di dunia. Subhanallah…

Rasanya sangat malu aku jika saat bicara dengan perempuan, harus menggunakan bahasa-bahasa yang lebay. Apalagi jika harus selalu memujinya secara berlebihan. Inilah mungkin penyebab utama kenapa aku tak pernah bisa romantis. Ujung-ujungnya, aku tak pernah bisa membahagiakan seorang perempuan yang kusayangi dan juga (mengaku) menyayangiku. Tetapi bukankah kebahagiaan itu adalah penerimaan hati dengan penuh rasa syukur terhadap segala hal yang melingkupi hidup? Bahasa lainnya adalah ikhlas. Dan menurutku, itulah romantisme tertinggi dalam hidup. Karena tidak pernah menafikan keberadaan Tuhan dalam setiap detak penerimaannya.

Dan aku,  biarlah tetap tidak bisa romantis dihadapan perempuan manapun, asal aku bisa memuliakan istriku kelak, dengan hati dan cinta yang selalu bersandar padaNYA. Sebab, kurang bijak juga rasanya, jika mengukur keromantisan hanya melulu dengan rayuan, pujian dan sederet kalimat gombal yang pasaran. Romantis itu, adalah saat seorang suami mampu memuliakan istrinya dengan cara-cara yang sudah digariskan oleh syariat. Bagitu juga sebaliknya.

Jadi, maafkan aku yang tak bisa romantis terhadapmu. Barangkali, aku memang tidak ditakdirkan untuk bisa membahagiakan semua orang. Termasuk kamu.

Artikel By : Rumah Rindu

One thought on “Nyonya, Maafkan Aku yang Tak Bisa Romantis dan Berkata Manis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *