Mencintai Adalah Bagaimana Mengerti, Bukan Bagaimana Mendengarkan

Sayang! Saat malam merambat dan kau tak sempat mengucap salam sebelum menjaring mimpi. Aku selalu tersenyum dan mengerti. Karena barangkali kau terlalu capek setelah beraktifitas seharian sehingga kau tertidur dalam dekap malam. Atau barangkali kau tengah kurang enak badan, sedikit flu dan meriang. jadi wajar jika kau buru-buru istirahat walau tanpa pamit.

Tetapi aku yakin kau masih selalu menyempatkan diri bangun tengah malam meski sebesar apapun keletihan yang menderamu. Karena aku tahu hatimu sayang, begitu wangi dan lestari. Aku yakin kau selalu bersujud pada-Nya pada sepertiga malam yang akhir meski kau tak mengabariku. Karena akupun sama sepertimu sayang. Hanya saja,,,kita dibedakan ruang. kau di sana sedang aku di sini. Tapi aku yakin doa kita sama. Berharap kemudahan dan belas kasihNYA demi kebersamaan kita nanti.

Sayang! Saat kau tak sempat membalas salam dan ucapan selamat pagi dariku. Aku masih selalu tersenyum, karena barangkali kau terlalu buru-buru untuk beraktifitas. Aku tahu kau seringkali lupa akan hal-hal kecil yang menjadi pembuka hari-hari kita. Tetapi sungguh, aku senantiasa paham akan hal itu sayang, karena sekali lagi aku tahu hatimu.

Setelah agak siang, dan kau ada waktu senggang. Kau pasti akan berkirim kabar padaku dengan lesatan kata maaf yang berbuah senyum di bibirku. Dan tahukah kau sayang,,,? Saat-saat seperti itulah, hatiku seringkali gerimis. karena menyadari betapa sangat sibuknya aktifitasmu, sedangkan aku tak bisa langsung berada di sampingmu untuk membantu.

Sayang! saat kau terlalu sibuk dengan aktifitasmu. Saat kau nyaris tak punya waktu untuk sekadar berkirim kabar padaku. Saat kau terlalu fokus pada kuliah, tugas dan pekerjaanmu, maka aku senantiasa mengingatkanmu meski hanya lewat pesan singkat “jangan terlalu sibuk sayang, jaga kondisimu”.

Semua itu aku lakukan karena aku menyayangimu dan tidak ingin melihatmu sakit karena kecapekan. Aku tahu kau perempuan kuat sayang. Aku tahu kau perempuan mandiri, tetapi harus juga kau mengerti, bahwa sekuat apapun dan semandiri apapun, kau tetaplah manusia biasa yang harus pandai-pandai menjaga kondisi. itu yang selalu membuatku kepikiran dan cemas terhadapmu.

Kau bilang, ini demi rumah rindu…

Sayang,,, dengarkanlah bisikku ini…

Kita memang punya impian besar untuk membangun rumah sendiri. Rumah mungil yang cantik. Rumah sederhana yang asri. Rumah yang penuh dengan kasih sayang, cinta dan rindu di dalamnya. Rumah yang senantiasa bersepuh gelak tawa dan bias senyum dari kita. Rumah yang akan semakin ramai dengan kehadiran buah hati kita. tetapi sayangku,,, rumah rindu itu bukan sekadar bangunan fisik semata.

Rumah rindu itu harus menjadi “rumah surga” bagi kita. Baiti jannati adalah rumah yang di dalamnya penuh dengan keharmonisan. Karena rumah rindu adalah surga, maka engkaulah bidadarinya sayang. Engkaulah sumber keharmonisan itu. aku dan anak-anak kita kelak, tak akan bisa merasakan hidup nyaman dan bahagia tanpa sapaan dan sentuhanmu setiap hari. Bahkan setiap saat.

Untuk itulah sayang, kenapa aku selalu mengingatkan agar engkau senantiasa menjaga kondisi dan tidak terlalu capek bekerja meski alasanmu demi rumah rindu. Karena rumah rindu hanya akan utuh jika ada kita yang mengutamakan keluarga dari pada yang lainnya.

Sayang,,, aku tahu kau juga tidak suka jika aku selalu cerewet. Tetapi apa yang bisa kuperbuat selain banyak bertanya dan memastikan bahwa kau senantiasa baik-baik saja? bahwa senantiasa kau selalu menjaga kondisimu?

Saat kau sedang tak enak hati, terlalu sibuk dengan tugas, atau diam tanpa kabar. tentu aku tak bisa mengetahui secara pasti apa yang terjadi denganmu sayang,,, untuk itulah, kenapa aku banyak bertanya? Karena aku senantiasa cemas. Kecemasan yang tentu saja sangat diluar perkiraan sebelumnya. Aku sempat heran sayang,,, kenapa aku terjamah kecemasan seperti ini. Pelan-pelan aku mencoba mencari musababnya. Dan ternyata,,, semua kecemasan itu bermula karena aku begitu mencintaimu. Tak ada ukuran apapun yang bisa kugunakan untuk menggambarkan seperti apakah cinta ini.

Sayang,,, Kecemasan demi kecemasan memang selalu menderaku saat aku tak menerima kabar darimu,,, saat kau lupa mengucapkan selamat malam,, saat kau lupa membalas ucapan selamat pagi dariku,,, saat kau tak membalas smsku yang senantiasa mengingatkan; “jangan lupa maem sayang,,,” “sudah sholat sayang,,,?” atau “lagi sibuk apa sayang,,,?

Itulah awal mula aku akan didera rasa cemas yang bertubi-tubi sayang… mungkin lagi-lagi kau lupa bahwa ada aku yang selalu menunggu kabar darimu. Sesekali,, aku memang harus cerewet padamu sayang,,, sebab aku mencintaimu dan selalu ingin memastikan kau baik-baik saja. apalagi yang bisa kuberikan padamu sebagai wujud cinta selain sebentuk kepedulian ini?

Sayangku,,, mencintai itu bukan persoalan memberikan setangkai bunga. Membangunkan rumah mewah. Berpegangan tangan sambil saling tersenyum menatap mata masing-masing. Bukan itu sayang…

Mencintai adalah bagaimana mengerti, bukan bagaimana mendengarkan. Mencintai  adalah bagaimana peduli, bukan bagaimana membiarkan. Mencintai adalah bagaimana memberikan perhatian, bukan bagaimana memberikan kemewahan.

Sederhana sayang,,, aku hanya punya cinta seperti itu. Tidak lebih.

Artikel by : Rumah Rindu

One thought on “Mencintai Adalah Bagaimana Mengerti, Bukan Bagaimana Mendengarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *