Aku Masih Berjuang Menata Hati Pasca Seratus Lima Puluh Hari Tanpa Kamu Sayang

Hai, melalui tulisan singkatku ini bolehkah aku bertanya? Bagaimana kabarmu di sana? Bahagiakah kamu setelah seratus lima puluh hari yang lalu kamu memutuskan untuk mengakhiri segalanya padahal hubungan kita sedang baik-baik saja? Bahagiakah kamu setelah seratus lima puluh hari yang lalu mengucap kata pisah seolah tanpa rasa bersalah?

Sudah puaskah kamu meninggalkan seseorang yang paling mencintaimu, tanpa memberi dia kesempatan untuk bertanya dan berbicara? Sudah puaskah kamu hanya menjadikanku sebagai tempat persinggahanmu sesaat, datang sekelebat lalu pergi seenak jidat? Senangkah kamu menjalani hari demi hari tanpa kehadiranku lagi di hidupmu? Kalau memang jawabannya iya, betapa bahagianya hidupmu sekarang.

Di Balik Bahagiamu Tanpa Diriku, Tahu Kah Kamu, Jika yang Ku Rasakan Berbanding Terbalik Denganmu Seratus Delapan Puluh Derajat

Sedangkan di sini, saat ini, yang aku rasakan adalah kebalikan dari yang kamu rasakan, sayang. Ya, sepertinya memang hanyalah aku yang paling muram menghadapi perpisahan kita seratus lima puluh hari silam. Hingga sampai sekarang luka yang kurasakan tak jua redam.

Masih terasa kehampaan yang disebabkan oleh ketidak-hadiranmu di sini. Masih ada rindu yang semakin menderu karena sudah seratus hari lebih kita tidak bertemu, masih ada buliran air mata yang luluh tiada kendali ketika mengingat kamu. Rasanya, sungguh berat menjalani hari-hari, ketika aku tidak lagi tahu kabarmu saat ini, ketika aku harus membiasakan diri tak menerima pesan darimu lagi.

Memang Namamu Masih Selalu Kurapalkan Dalam Doaku, Meski Tak Ada Permintaan Darimu

Dan tahukah kamu? setiap malam, sebelum mataku terpejam, hanya namamulah yang ku rapalkan di setiap doa-doa panjangku kepada Tuhan, masih saja namamu yang ku sebut lirih di setiap sujud di sepertiga penghujung malamku. Selalu kamu, kamu, dan kamu.

Kamu tidak akan tahu, kamu tidak akan pernah mengerti, dan mungkin apa yang kamu lakukan disana tidak akan pernah melibatkan aku lagi. Segala perihal tentangku sudah lenyap dari ingatanmu juga hatimu, bukan begitu?

Kamu melepaskan tanganku di saat aku masih ingin menggenggam tanganmu. Kamu berjalan menjauh tanpa peduli air mataku yang berderai jatuh. Kamu tinggalkan aku di tengah perjalanan, tanpa memberi tahu apa yang selanjutnya harus aku lakukan.

Kamu begitu tega ciptakan perpisahan setelah berhasil membuatku nyaman.Kamu begitu mudah mengucap kata pisah, seolah tak ingat ucapan memikat saat pertama kali kamu berusaha mendekat. Kamu begitu gampang mengakhiri segalanya, menamatkan hubungan kita, tanpa menyadari bahwa caramu mengakhiri membuatku terluka tanpa jeda.

Ini Lah Makna Dari Seratus Lima Puluh Hari Setelah Kepergianmu, Semoga Kau Tak Melakukannya Kepada yang Lain

Seratus lima puluh hari setelah kamu memutuskan untuk pergi, rasanya masih separah ketika pertama kali kamu mengucapkan kata pisah. Seratus lima puluh hari setelah segalanya berakhir, rasanya hatiku masih sehancur ketika dulu kamu memilih untuk kabur. Seratus lima puluh hari tanpa kamu, entah mengapa masih saja bayangmu tak jemu singgah di dalam lubuk hatiku.

Terima kasih ya karena kamu sudah membinasakan mimpi-mimpiku untuk mengenalkanmu pada keluargaku, pada teman-temanku. Terima kasih juga sudah mengaburkan segala angan yang kupikir selama ini cinta, namun ternyata hanya sekedar sandiwara belaka.

Semoga kamu selalu dalam lindunganNya.

-Aku menulis ini ketika mulutku tak lagi sanggup berkeluh-
-Aku menulis ini ketika tak kuat lagi menampung air mata yang berkali-kali jatuh-

7 thoughts on “Aku Masih Berjuang Menata Hati Pasca Seratus Lima Puluh Hari Tanpa Kamu Sayang

  1. sungguh waktu yang tidak sebentar 150 hari yang dihitung hari per harinya, sungguh sangat menderitakan jika selama itu pun aku belum bisa bangkit dari kepergianmu….hadeuh…baca ini jadi brebesmili deh nih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *